Jumat, 24 Oktober 2014

CERITA DEWASA BERCINTA DENGAN ADIK KELASKU

BERCINTA DENGAN ADIK KELASKU

saat ini. Namaku Nia, lengkapnya Lavenia, aku sangat terkenal di sekolah, teman-teman kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering mengusilliaku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah "geng" di sekolah, Manda dan Lea adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi merekaseperti biasanya selalu ada. Tahun ajaran baru kali ini sudah tiba, banyak adik-adikkelas baru yang baru masuk kelas 1. Sherry Andhina, nama gadis itu, ia baru dudukdi kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, lebih cantik dari aku, kulitnya putihbersih terawat, dengan wajah agak kebule-bulean dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Sherry sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka sukaberbagi fantasi seks mereka tentang Shery. Sherry tidak seperti aku, ia gadis pendiamyang nggak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya. Semakin hari Sherry semakin terkenal, keegoisanku munculketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Sherry, akhirnya aku, Mandadan Lea merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Sherry. Seperti aku, Sherry juga anggota cheerleaders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Sherry untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, ia menolak, namundengan segala upaya aku membujuknya sampai ia mau. Sore itu, sekolah sudah sepi,tersisa aku, Manda, Lea, Sherry dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku. "Kak, sampai kapan Sherry mesti nunggu disini?" "Udah tunggu aja, sebentar lagi!!" Sherry mulai kelihatan cemas,ia mulai curiga terhadapku. "Sudah beres Non" Tejo si penjaga sekolah melapor padaku. "Oke" jawabku. Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah
untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya. "Ya udah, ikut gue sekarang!!" perintahku untukSherry. Dengan ragu-ragu, Sherry mengikuti aku, Lea dan Manda. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerleaders. Sherry menangis karena bentakan dari aku, Manda dan Lea, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis. "Sherry salah apa Kak?" ia menangis terisak-isak. "Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak lagak,lo mau nyaingin kita-kita yang senior? hormatin dong!!" bentakku "Nggak kok Kak, Sherry nggak begitu" "Nggak apaan? Nggak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!" Lea menambahkan bentakanku. Setelah puas membentak-bentak Sherry, aku memberi tanda kepada Manda. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Tejo, Andre, Lodi dan Seto. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Sherry saat itu terkejut dan sangat ketakutan. "He.. he.. he.. ini dia Non Sherry yang ngetop itu" Setoberujar sambil tersenyum menyeringai. "Cantik banget, sexy lagi.." tambah tejo. Sherry gemetaran ia terlihat sangat takut. "Sikat aja tuh!!" perintahku pada 4 pria itu. "Oke, sip bos!! He.. he.. he.." Tejo menyeringai. Manda yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Seto mencengkram tangan kanan Sherry, sementara Lodi mencengkram tangan kirinya. Tubuh Sherry mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Sherry terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong. "Gue duluan ya" Tejo mendekati Sherry. Aku hanya tersenyum melihatkeadaan Sherry sekarang, aku puas melihat ia ketakutan. "Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?" Sherry memohon ampun. Tapi Tejo sudah tidak perdulilagi dengan permohonan Sherry, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perl ahan Tejo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Sherry,Sherry menjerit ketakutan.
Tanpa menghiraukan teriakan Sherry, Tejo meremas-remas payudara Sherry perlahan-lahan. "Yang kenceng Jo!!" perintahku. Tejo mengeraskan cengkramannya di buah dadaSherry. Sherry berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Sherry saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Tejo membuka seragam SMU sherry kancing demi kancing sampai payudara Sherry yang tertutup BH terlihat. "Gila!! Seksi banget nih toket,putih banget!!" sahut Tejo sambil tertawa gembira. Perlahan Tejo menyentuh kulit payudara Sherry, Sherry pun terlihat gemetaran. "Tolong jangan Pak!!" sahut Sherry memelas. Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Tejo menanggalkan penutup payudara Sherry itu. Tejo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Sherry itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Sherry indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku. "Abisin aja Pak!!" Lea memintaTejo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Sherry. "Ok Sherry sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh.." Tejo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Lodi dan Seto yang masih memegangi tangan Sherry supaya ia tidak melawan, sementara Andre berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya. "Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Sherry.." Sherry memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli. Sama sepertiku, Tejo juga tidak perduli dengan permintaan Sherry. Tejo mulai memainkan tangannya di payudara Sherry, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus danmenekan-nekan puting payudara Sherry dengan jarinya. Lodi dan Seto tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Sherry dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas. "Ah.. cukup Pak.. ampun Kak.."Sherry mulai mendesah. Tejo kian bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Sherry, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Sherry ketika
bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan. Melihat suasana yang panas itu, Andre akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Sherry. Andre dan Tejo saling berbagi payudara Sherry, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Sherry dan menjalar dengan liar di sekitar puting payudara Sherry, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting payudara Sherry. Sherry mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Manda pun beraksi merekam seluruh kejadian yang menimpa payudara Sherry dengan seksama melalui handy cam-nya. Tejo menurunkan ciuman danjilatannya ke perut Sherry yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Sherry yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Shery. Tejo berhenti dan menyuruh Andreyang sedang menikmati puting payudara Sherry berhenti. Tejo lalu mulai menyingkap rok sekolah Sherry, sambil mengelus paha Sherry. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Sherry yang mulus dan putih itu. Tangan Tejo perlahan naik menyentuh selangkangan Sherry yang ditutup celana dalam pink itu. "Jangan Pak!! Ampun!!" Sherry memohon pada Tejo. Andre pun ikut mendekat ke Tejo. "Wah, Celana dalam Non Sherry lucu sekali.." ejek Andre. Tejo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Sherry. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya. "Wow Non Sherry!! Vaginanya indah banget!!" Tejo tampak bersemangat. Vagina Sherry memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Sherry sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya,ia membiarkan vaginanya tertampang mulus tanpa rambut kemaluan. Perlahan tangan Tejo dan Andre menjelajahi paha, dan sekitarselangkangan Sherry. Sherryhanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu. Tak lama kemudian tangan Tejo dan Andre, tiba di bagian vital Sherry. Dengan
nafsu membara, Andre membuka bibir vagina Sherry, sementara Tejo memasukkan jarinya kedalamliang vagina Sherry. Perlahanjari tangan Tejo menyolok-nyolok vagina Sherry, dan makin lama gerakannya makincepat. Tubuh Sherry nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Sherry mendesah perlahan. Tejo dengan pandai memainkan kecepatan jarinyamenyolok-nyolok vagina Sherry, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Tejo menembus liang vagina Sherry, dari bibir vagina Sherry kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Sherry terangsang. "Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?" "Jangan Pak, tolong!!" Sherrymemohon. Tejo tidak mempedulikan permohonan Sherry, Jarinya keluar masuk vagina Sherry dengan cepat. "Ahh.. stop Pak!! Tolong..!" Sherry kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan. "Ahh..!" Sherry vaginiak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya. "Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. " aku meledek Sherry, aku membayangkan jika aku dalam posisi Sherry, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme. "Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!" Lea ikut mengejek. Tejo menghentikan jarinya yang menyolok-nyolok vagina Sherry, nampaknya iabelum mau Sherry mencapai puncaknya. Namun aku sudahtak sabar, dendam di dadakuterus membara ingin mempermalukan Sherry. Kutarik jari Tejo keluar dari vagina Sherry, lalu kudorongtubuhnya menjauhi Sherry. "Lho Non.. saya belum puas nih.." Tejo terlihat bingung. "Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!" bentakku pada Tejo. Saat kulihat Sherry dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Sherry. Tertampang jelas keindahan vagina Sherry di mataku, bibir vaginanya yangmemerah karena gesekan jari Tejo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahankudekatkan wajahku ke vagina Sherry, dan kucium
harum vagina Sherry, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanyadengan lidahku. Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Sherryterlihat sangat kaget. "Waduuh.. Non Nia ternyata juga mau ngerasain vagina Non Sherry ya?" Andre berseloroh meledek. "Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah horni nih.." Tejo menimpali. Aku tak perduli dengan ledekan Tejo dan Andre, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Sherry malu di tanganku. "Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak.." Sherry mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang. Kubasuh vagina Sherry dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan erotis. Kutelusuri bibir vagina Sherry dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya. Tak berapa lama kutemukan klitoris Sherry, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yangada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual. "Ahh.. ah.. ah.." Sherry tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Sherry menggelinjang kesanakemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolahnya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Sherry memuncratkan cairan-cairan kewanitaan yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Sherry dalam-dalam. Hampir 5 menit kunikmati vagina Sherry, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang dibanjiri keringat. Sherry hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Takberapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Sherryagak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saatitu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat.
Sherry terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Tejo, Seto, Lodi dan Andre hanya bisa terpaku menatap aku dan Sherry, sementara Lea dan Manda terlihat puas melihat "siksaan"ku terhadapSherry. Aku berdiri setelah istirahat sejenak. "Gilaa!! Non Nia hebat!! Saya jadi horni banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu" Seto angkat bicara. Kutatap Sherry yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam. Kulebarkan kedua kaki Sherry sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubukaseragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Sherry, kubuat ia telanjang bulat. Posisi kaki Sherry yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membukabibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Sherry. Posisi tubuhku dan Sherry Seperti dua gunting yang berhimpitanpada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Sherry yang masih terkulai lemas itu. "Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah.."Sherry mendesah memohon padaku. Tanpa perduli pada Sherry, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Sherry. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Sherry yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Sherry bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, sertavaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Sherry. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Sherry, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar. Di tengah deru nafasku yang
saling memacu dengan nafas Sherry, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu Andre, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku. "Saya juga ikutan ya Non Nia? Habis Non Nia bener-bener hot sih" permintaan Andre kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalamlautan kenikmatan. Kulirik Sherry yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Andre melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku. "Non Nia, saya nggak tahan lagi nih.." permintaan Andre kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku. Dengan sedikit hentakan, penis Andre menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku. "Aaah.. lobang Non Nia masih rapet banget nih.." Andre mencoba menekan pinggulnyauntuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Sherry, Andre juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Andre menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya. Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Sherry berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Andre yang mencapai orgasme bersamaan, ditandaisemburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamkuterbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Sherry beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya "penyiksaan" ini dimulai lagi. Aku duduk menjauh dari Sherry, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Lea, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Tejo, Lodi dan Seto
mendekati tubuh Sherry yangtergeletak tak berdaya. Lea memberi tanda pada Seto yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Seto memegang p inggul Sherry yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Sherry kini telungkup denganmemperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi. "Nah, Non Sherry siap-siap ya!" Seto berujar sambil mengangkat pinggul Sherry sampai ia dalam posisi menungging. Sherry cuma bisa menunggu siksaan apa lagi yang akan diterimanya dengan pasrah. Meski tubuh Sherry tampak lemas, ia masih saja menggairahkan. Seketika saja Sherry mendesah pelan, Seto dengan nafsunya meremas bongkahan pantat Sherry sambil mengelusnya. "Hajar aja!!" perintah Lea. Setelah mendengar perintah Lea, Seto yang sudah menunggu dari tadi langsung melesakkan penisnya yang menegang itu ke lubang vagina Sherry. Wajah Sherryterlihat terkejut sambil menahan sakit. Ukuran penis Seto yang besar memaksa masuk ke lubang vagina Sherry yang rapat itu. Sherryberteriak tiap kali Seto mendorong penisnya masuk. "Vagina Non Sherry rapet banget nih, aahh.." Seto berkata sambil mendorong penisnya lagi memasuki vagina Sherry. Setelah seluruh penis Seto masuk dalam lubang vagina Sherry, seto berhenti sejenak, ia membiarkan Sherry mengambil nafas sejenak. Namun Seto tidak membiarkan Sherry berlama-lama, perlahan-lahan ia mulaimemompa penisnya didalam vagina Sherry. Gerakan Seto makin cepat, deru nafas Sherry dan Seto terdengar keras dibarengi gerakan mereka yang seirama. Sambil terus memompa penisnya, Seto memainkan tangannya menjelajahi pantat dan pinggul Sherry yang basah oleh keringat. Sekali lagi Lea memberi tanda, Seto mempercepat lagi gerakannya, membuat tubuh Sherry bergerak kian liar. Tejo maju menghampiri Sherry, ia berdiri di depan wajahnya. Tejo mengangkat tubuh Sherry sampai ia dalamposisi merangkak. "Aaah.. cukup Pak.. ah.." Sherry memohon pada Tejo. Dengan senyum mengejek Tejo memaksa Sherry membuka mulutnya. Dengan nafsu yang membara ia memaksa penisnya masuk ke bibir mungil Sherry.
"Ayo isep penis saya Non!! isep!!" Paksa Tejo. Karena ketakutan, Sherry dengan pasrah menerima batangan penis Tejo menembus bibirnya. Besarnyapenis Tejo nampak memenuhiseluruh mulut Sherry. Tak bisa kubayangkan betapa puasnya Tejo, ketika gadis SMU secantik Sherry kini sedang mengulum penisnya. Dari jauh kulihat Sherry menangis, airmata jatuh ke pipinya, ia merasa terhina dan jijik. Dendamku benar-benar terbalas, Sherry benar-benar menderita. Dibalik semua itu aku juga merasa kasihan padanya. Tejo mulai memompa penisnya, melakukan gerakan maju mundur dihadapan wajah Sherry. Kini mulut dan vagina Sherry telah dipompa dua batang penis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat tubuh Sherry terlihat berkilauseksi. Hanya Lodi saja yang belum menikmati Sherry, kini ia naik keatas meja, lalu memposisikan dirinya diatas punggung Sherry seolah-olah ia sedang menaiki kuda. Lodi meletakkan penisnya diatas punggung Sherry, sambil kemudian ia gesekkan.Tangan lodi menjelajah kedua payudara Sherry yangtergantung. Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Sherry, tak bisa kubayangkan perasaan Sherry saat ini. Vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Seto berejakulasi di dalam liang vagina Sherry, sperma yang melimpah keluar dari penis Seto mengalir keluar melalui liang vagina Sherry, seketika itu juga Sherry bergumam sembari menaikkanpinggulnya, ia berorgasme. Setelah Seto puas membasahivagina Sherry dengan spermanya, giliran Lea menggantikan posisi Seto. Dengan liar, Lea menjilati vagina Sherry yang masih basah oleh sperma Seto. Selang berapa menit kemudian Tejo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Sherry sembari memuncratkan spermanya di wajah Sherry, kulihat Sherry menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Sherry sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini. Setelah Tejo, giliran Lodi berejakulasi diatas punggungSherry. Sperma lodi nampak membasahi kulit punggung
Sherry yang putih mulus. Andre yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Lea yang kini merubah posisi Sherry menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Sherry keatas. Penis Andre yang ekstra besar itu menembus vagina Sherry, dan dengan liar memompa tubuh Sherry. Sherry yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Andre memompa penisnya didalam vagina Sherry sampai akhirnya gerakan Andre dipercepat, Sherry berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Andre berejakulasi di luar vagina Sherry, ia membiarkan spermanya jatuhmembasahi selangkangan Sherry. Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Sherry yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Sherry hanya tergeletak diatas mejaitu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Tejo, Andre,Seto dan Lodi. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas. "Nah, sekarang kapok kan lo?" bentak Lea kepada Sherry. "Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. " ancamku pada Sherry. "Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!" bentak Lea. "Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!" bentakku. "Enak Kak.." jawab Sherry ketakutan. "Enak?! lo seneng dientot?!" bentak Lea lagi. "Iya Kak.. enak sekali.. nikmat.." Sherry menjawab. "Lo mau lagi?!" Manda yang dari tadi diam kini bicara. "Ma..mau Kak.." jawab Sherry.
Aku, Lea dan Manda saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Sherry kini menjadi bagian gengku, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Sherry, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya. E N D

CERITA DEWASA KISAH MISTERI MALAM JUM'AT

KISAH MISTERI MALAM JUM'AT

tidurku, tanganku terasa kesemutan dan kaku, kakiku seperti susah digerakkan. Kucoba menggerakkan tanganku, ternyata tangankuterikat erat kebelakang, kucoba melepaskan diri dengan menggerakkan pergelangan tangan, rasa nyeri menyelimuti seluruh pergelangan tanganku, aku berkesimpulan, tanganku diikat dengan tali pramuka putih. Sejenak aku berusaha melihat ke sekujur tubuhku ditengah kegelapan, aku melihat tali putih itu melilit melingkar di payudaraku, yang aku tahu pasti, aku masih berbusana lengkap, blus berkerah shanghai warna hitam tanpa lengan dengan kancing kancing warna perak yang berbaris dari ujung leherku hingga kebawah, terlihat kontras karena ada tali putih melintasatau tepatnya meliliti payudaraku bagian atas dan bawah. Rok 10 cm dari lutut masih kukenakan, lalu kurasakan sepatu masih membungkus di kakiku, sepatu pemberian kekasihku, warnanya hitam, haknya 7 cm dengan model seperti pantofel dengan tali tipis dari karet yang melintang di pergelangan kaki. Kucoba gerakkan kakiku, oh ternyata terikat erat jadi satu. Sadarku mulai pulih sedikit demi sedikit, akusedang terduduk, kucoba ayunkan kakiku, "Ough!" Ternyata kakiku terikat dan kemudian diikatkan kembali ke kaki kursi, praktis tak bisa kugerakkan saking kencangnya ikatanku. "Ugh.! ugh.!" Aku mencoba menggerakkan badanku, tidak berhasil. Tubuhku terikat melalui dada ke lenganku, kemudian diikatkan pula ke sandaran kursi, jadi aku terikat dulu lalu diikatkan ke kursi. (bayangkan iklan close-up edisi penculikan, seperti itulah aku,) Lalu aku mencoba berteriak minta tolong, yang kudengar suaraku adalah, "Mmh, mmh," Ternyata mulutku disumbat dengan lakban, dari kegelapan dan daya rekatnya aku tahu ini lakban perak yang sering aku lihat dalam film-film. Seribu pertanyaan menyerbu benakku,. Aku berusaha mengumpulkan ingatanku atas kejadian yang terjadi sebelumnya. "Ada apa dengan diriku?" hatiku bertanya-tanya sambilberpikir keras. Oh, baru kuingat sekarang, tadi malam aku baru saja menyelesaikan tugasku di
hotel hingga jam sebelas malam. Papi (suamiku) sedangbertugas ke Singapore, baru saja berangkat paginya, dia baru akan kembali minggu depan. Kuingat-ingat lagi apa yang terjadi, malam itu aku menjamu teman-teman (tamu lebih tepatnya) dari sebuah stasiun TV, tepatnya sebuahrumah produksi yang krunya kebetulan mengadakan 'shooting' di kotaku dan menginap di hotel tempatku bekerja. Kami bercanda riangmalam itu, lalu aku bersama-sama mereka melanjutkan dengan dugem ke Hard Rock Caf� di Kuta. Kemudian ingatanku terbayang saat GMku yang hari itu tidak masuk karena karena tensinya agak tinggi, mengirim SMS untuk langsungpulang saja jam sebelas malam dan terus menerus memastikan bahwa aku segera pulang. "Nggak baik cewek kaya kamu masih ada di hotel sampai lewat jam sebelas!" Begitu pesannya di SMSnya ditengah malam, hampir jam 24, yang aku tidak hiraukan karena kupikir aku sedang seru-serunya ngobrol dengan orang-orang TV itu. Kembali kuaktifkan ingatanku,belum pulih seutuhnya, yang aku ketahui kini, sesadarku dari tidurku, aku tahu bahwa aku sedang duduk terikat lengkap hingga sedikitpun tidak bisa bergerak. Oh, aku mulai ingat lagi saat itu aku membawa kru TV itu ke Hard Rock Cafe. Mengapa tidak ada dalam memoriku kalau aku sampai di sana? Aku ingat lagi, aku mengemudikan Suzuki Vitaraku DK 369 MV. Mampir ke pompa bensin beserta mereka 4 pria dan 2 wanita selain aku. Sampai di situ saja aku ingat, setelah itu aku tidak ingat apa-apa, tahu tahu aku sudah berada di tempat sege lap ini dengan penerangan 5 watt dalam keadaan terikat, kupastikan aku berada di sebuah gudang, entah di mana, oh. Aku diculik..!! Seingatku saat mengisi bensin, tiba-tiba ada saputangan membekap mulut dan hidungku, kelihatannya datang dari kursi belakangku. Lalu aku tak sadarkan diri. "Eh Mbak Mila, udah bangun yaa?" suara itu muncul dari kegelapan membuyarkan lamunanku. Sosok yang tinggi besar itu hanya berbicara tepat disebelah lampu 5 watt itu, dan aku tak kuasa memandangnya karena silau.
"Srett.." lakban di mulutku dibukanya,. "Denis! Apa yang kamu lakukan padaku, Lepaskan aku! Biarkan aku pulang," teriakku. "Hey, Dee .mmhh!! ..mmhh!!" kembali Denis menyumpal mulutku dengan lakban baru sehingga aku tak sempat memanggil lagi namanya. "Istirahat dulu ya Mbak, nantikita mulai jam 5 subuh!" katanya seraya memadamkanlampu yang 5 watt itu sehingga aku hanyut dalam kegelapan rasa bersalah ini begitu menyelimuti diri yang terikat erat ini. Terbayang GM ku yang tengah sakit masih berusaha mengingatkan aku untuk segera pulang karena telah larut malam melalui SMSnya, dan aku begitu sombongnya mengacuhkan perintah dan perhatiannya padaku. "Maafkan aku Pa'." Seruku dalam hati yang penuh sesal ini. Tak terasa air mataku berlinang, Papa, biasa aku memanggil GMku sangat perhatian dan menunjukkan sayangnya padaku. Entah kenapa, malamitu aku merasa ingin memberontak dari ketergantunganku padanya, sekarang tinggal sesal yang ada. Malam semakin larut adabunyi jam kukuk, yang berbunyi dua kali, oh, masih jam 2 dini hari rupanya, lamanya waktu berjalan, rasalelah, dingin, dan takut kembali menyelimuti diri yang terikat ini, tanpa terasa dalam keadaan terduduk dan terikat ini aku kembali terlelap. Suasana pagi itu masih gelap,kurasakan tubuhku agak lebih nyaman, dan aku masih merasakan merasakan busana berbahan satinku itu masih membungkus tubuhku. Oh rupanya aku dalam posisi terbaring lagi kucari tanganku, kuharap yang kualami tadi hanya mimpi, ternyata tidak. Berusaha aku gerakkan tanganku, terikat erat jadi satu ke atas dan kelihatannya diikatkan ke ujung yang permanen, mungkin kursi yang tadi mereka dudukkan aku terikat. Masih dengan tali pramuka yang sama. Mulutku penuh dengan kain-kain, masih tersumbat, tapi rasanya tidak dengan lakbantetapi rasanya bibir ini sedikit terbuka serta ada sapu tangan yang melintas diantara bibirku yang menyumpal mulutku, yang ternyata ujung simpulnya diikatkan ke tengkukku. "Mmhh.. mmhh..!!" Sia sia usahaku bersuara. Kakiku
terasa tidak terikat lagi jadi satu, tapi, ugh! tetap tak bisakugerakkan. Perlahan kucobamengangkat kepalaku, menggeleng-geleng sedikit kepalaku agar rambutku yang panjang tidak mengganggu penglihatanku, oh kulihat kakiku mengangkang lebar dan terikat pada ujungnya masing-masing. "Mmmhh..," desahku begitu aku sadari bahwa kini aku terikat dan terbaring di atas sebuah meja panjang. "Di mana Denis,. yang tadi sempat muncul..!" belum habisrasa ingin tahu dalam suasana misterius ini kemudian, "OK, Take One! Action!!" suara seseorang bersamaan dengan menyalanya beberapa lampu sorot yang menghujam wajah dan tubuhku. "Mmhh, mmhh,!! seruku dengan sekuat-kuatnya inginmeronta namun tidak ada gerakan berarti yang bisa aku lakukan. Sementara kulihat seseorang memanggulkamera menjelajahi tubuhku melalui kameranya dari ujungkedua kakiku, perlahan-lahan hingga sampai di wajahku, kemudian dia menyorot lama diwajahku sebelum menyoroti tanganku yang terikat jadi satu ke atas. "Cut,!!" teriakan itu terdengarlagi. "Sret..," gelap pemandanganku karena mataku dilakban juga, aku pasrah, entah apa lagi yang akan dilakukan padaku. Aku rasakan tubuhku menjadi miring, sepertinya mereka mengangkat meja di bagian kepalaku, dimana tanganku yang terikat berujung. "Take Two! Ready? Action!!" aba-aba itu terdengar lagi. Aku juga rasakan celana dalamku disobek, mungkin dengan gunting atau pisau lalu kurasakan ada lidah yang menjelajah tubuhku, mulai dari sepatuku, menjalarke betis kiriku, betis kananku, naik pelan-pean kelututku, basah yang terasa membuat geli dan sedikit mula i terangsang. Aku berusaha menahannya, kubayangkan kengerian akan keberadaanku yang diculik, terikat erat tanpa tahu apa yang akan terjadi. Ketika lidah itu tiba di paha, langsung naik pelan-pelan keselangkanganku, rasa takut dan ngeriku hilang dan tiba tiba ada rangsangan yang semakin membara, dibenakkuterbayang Papa dengan kekhawatirannya dalam sakitnya. Kurasa pipiku membasah menangis, karena kutahu dia pasti sangat
cemas mencari kabar berita dariku. "Aaghh,!" kurasakan batang penis yang besar masuk kedalam vaginaku secara paksa, aku tidak membiarkandiriku orgasme karena diriku diselimuti rasa sesal yang mendalam terhadap Papa. Sejenak kurasa mereka melepaskan sapu tangan yang menyumpal mulutku. Takpelak suaraku lepas "Aauw, aghh, saa.. kit!!" seruku sementara kelihatannya pemerkosaku semakin bersemangat, sehingga vaginaku mulai basah karenacairan dariku keluar. Digerakkannyalah batang penisnya mundur, maju, mundur, maju, dengan lembut, tubuhku mulai menegang, irama penisnya menjadi semakin cepat kurasakan wajahnya mendekat ke leherku, kepipiku dan bibirku, oohh! Dia ingin mencumbuiku, kucoba menghindar dengan menggerakkan kepalaku, menggelengkan kepalaku. Tak terhindari, dia mulai mengulum bibirku namun aku tidak sudi bereaksi terhadap ciuman itu. Lalu kurasakan tangan-tangan yang meraba-raba dan meremas payudaraku yang masih terbungkus busana dan BH. Kemudian tangan itu bergerak kearah leherku, tamatlah aku dia ingin mencekikku sampai mati,
"Aah, jangan mas, jangan bunuh aku,!" "Bwaa.. ha.. haa!" suara itu begitu ramai, mungkin lebih dari 5 orang yang tadinya kucurigai, yang ada disitu. Tangan itu menekan keras tombol kancing keduaku. "Auw.., sakit!!" hardikku. Ada tangan yang lain membekap mulutku dengan kuat, "Mmhh, mmhh!" seruku sementara kancing keduaku kembali ditekan kuat dengan jempolnya. Kemudian tangan-tangan itu membuka kancing bajuku satu per satu, yang lain membuka BHku yang kebetulan dibuka dari depan. Bersamaan itu penis yang menghujam di vaginaku di cabutnya dengan kasar. "Argh..!!" teriakku. Angin terasa membelai tubuhku, dengan mata tertutup hanya itu yang bisa memastikan bahwa blus ku sudah terbuka semua namun masih menempel di tubuhku karena terikatnya payudara dan lenganku. "Ahh.. ahh.." desahku saat bibir dan lidah entah siapa oknum jahanam itu yang mengisap-isap puting, serta menjilat-jilat payudaraku sehingga terasa geli dan pertahananku akhirnya
memudar karena ada rasa kenikmatan yang lebih berhasil mendominasi perasaan sesal yang masih tinggal. Di dalam kegelapan akibat mata yang tertutup lakban ini aku rasa ada orang lain lagi yang mungkin mendapat gilirannya langsungmemasukkan batang penisnya ke vaginaku melakukannya dengan sangatkasar sehingga rasa sakit yag tiada tara kembali membuatku tak sadar diri. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat aku siuman, aku rasa hari sudah agak siang, mungkin sekitar jam 15.00. Karena kudengar lagi suara Papa yang bak teriakan di atas gunung"Mila.., Mila.." Oohh, Papa mencariku, kucoba membuka mataku, gudang tempat aku disekap sedikit lebih terang walau masih gelap dan sumpek, kulihat lampu sinar HPku berkelip-kelip. Ingin aku menggapainya namun aku sadari tanganku terbelenggu tak berdaya, mulutku kembalidisumbat dengan lakban, danpakaianku telah lengkap dan kelihatannya utuh. Namun keadaan kali ini lebih mengenaskan, aku masih terikat seperti pertama kali aku sadari, namun tidak di kursi atau di atas meja tetapimereka menggantungkan diriku dalam ikatanku yang dipayudaraku ini entah menggantungkan kemana, sehingga tubuhku akan terayun-ayun bila saja aku meronta-ronta. Jarak ke bawah sekiraku adalah 3 meter. "Oh, Papaa.. Aku takut jatuh!"di sudut lain ada pemandangan mengenaskan. "Ough..," kudengar suara erangan itu, aku kenal dengan suaranya, ada cahaya kamera yang menghujam tubuhnya, oh, itu Maya, kolegaku yang terkenal paling sexy di hotelku. Bagaimana bisa Mayaterperangkap oleh mereka? Tak habis pertanyaan dari benakku. Aku lihat Maya, dengan blus kerah shanghai berwarna merah berkancing merah juga yang berbaris rapi ke leher, dan rok hitam, serta sepatu kerjanya yang dihiasi tali tipis di pergelangan kakinya, dalam kondisi yang serupa, terikat tangannya ke punggung dengan tali rafia kuning meliliti payudaranya dari atasdan bawahnya sehingga menyembul, kakinya juga terikat seperti diriku. Nasib Maya tidak berbeda sedikitpun dengan diriku, oh
aku meronta-ronta, amarah ini begitu kuat sehingga tubuhku kembali terayun kencang. "Jahanam kamu, jahanam!!" gumamku. Kulihat Maya pingsan, namun masih saja menjadi bulan-bulanan mereka para pemerkosa. Dua orang dari mereka yang kini bertopeng kemudian menghidupkan televisi yang sengaja merekapasang digudang itu. Oohh! aku melihat diriku disana dalam keadaan tak berdaya menjadi bulan-bulanan mereka. "Mbak Mila, kalau nanti kami lepaskan Mbak, jangan lapor polisi dan jangan sekali-kali mengadukan ini, pokoknya begitu kami tahu Mbak melanggar, hmm ini akan kamisiarkan secara nasional dalam konteks sinetron, atauakan kami upload ke situs-situs dewasa di seluruh dunia. "Bwaa ha.. ha.. ha..!!" ancam salah stu dari mereka.
"Dan bilang juga sama Mbak Maya ya.." "Uh, mmhh!!" hanya itu yang keluar dari mulutku ini. "Papaa.. Papaa, tolong aku, lepaskan aku dari sini Paa,!!"hanya itu saja harapku agar Papa bisa mencoba mendeteksi keberadaanku, karena aku ingat nomor HPkuyang satu lagi aku bawa jadi mungkin Papa bisa lacak lewat Location Data Services. Rasanya hari sudah kembali malam, kulihat Maya yang terikat tak berdaya itu juga digantung persis seperti keadaan diriku, mataku kembali mencari-cari para penculik dan pemerkosa kami.Tidak kutemui, dari putaran waktu; aku menyadari kalau mereka kemungkinan sudah check out dan kembali ke Jakarta meninggalkan kami dalam keadaan seperti ini, aku tertidur dalam keadaan tergantung sementara kelihatannya Maya juga. Sudah empat hari rasanya kami diculik dan disekap. Ketegangan yang begitu tinggi disertai rasa lapar, serta sakit yang beruntun mulai pergelangan kaki, tangan, serta maag yang belum diisi. Kulihat Maya, oh dia terjaga, tidak ada yang bisa kami komunikasikan kecuali saling pandang dan saling tatap keberadaan masing-masing yang sungguhmengenaskan. "May," ingin aku menyapanyanamun hanya mmhh, yang terdengar; demikian juga Maya, kami cuma berharap Papa atau siapa saja bisa menemukan kami dalam keberadaan seperti ini entah kapan.

Cerita Dewasa Si Pembantu Kecilku Yang Menggoda

Namaku Andi, aku mahasiswa di salah satu PTN top di Bandung. Sekarang umurku 20 tahun. Jujur saja, aku kenal seks baru sejak SMP. Aku senang sekali ada situs khusus buat bagi-bagi pengalaman seperti ini, sehingga apa yang pernah kita lakukan bisa dibagi-bagi.

Awal aku mengenal seks yaitu saat secara tidak sengaja aku buka-buka lemari di rumah teman SMP-ku dan menemukan setumpukan Video VHS tanpa gambar di dalam sebuah kotak. Karena penasaran film apa itu, kuambil satu dan langsung kucoba di video temanku di kamar itu yang kebetulan sepi, karena temanku sedang les.

Kusetel film yang berjudul... apa ya? aku lupa, ternyata itu film dewasa (waktu itu aku belum banyak tahu). Aku cuma pernah dengar teman-temanku pernah nonton film begituan, tapi aku tidak begitu penasaran. Nah, saat itu aku baru tahu itu loh yang namanya BF. Kebetulan itu film seks tentang anak kecil yang masih mungil bercinta dengan bapaknya, oomnya, temannya dan lain-lain.

Dan aku ingin cerita nih pengalaman pertamaku. Kejadian ini terjadi ketika aku masih SMA, di rumahku ternyata ada pembantu baru. Orangnya masih lumayan kecil sekitar 12 tahun lah, tapi itu dia yang membuatku suka. Aku itu suka sama wanitae imut-imut yang masih agak kecil mungkin gara-gara video waktu itu (aku suka begitu melihat situs-situs tentang Lolita, soalnya cewek-cewek di situs-situs itu masih imut-imut). Dan yang paling membuatku terangsang adalah payudaranya yang masih baru tumbuh, masih agak runcing (tapi tidak rata).

Setiap hari itu dia kerjaannya, biasalah kerjaan pembantu rumah tangga, ya ngepel, ya mencuci dan lain-lain. Kalau aku sarapan, kadang suka melihat dia yang sedang ngepel and roknya agak terbuka sedikit, jadi tidak konsentrasi deh sarapannya karena berusaha melihat celana dalamnya, tapi sayang susah. Untuk awal-awal aku hanya bisa minta dibuatkan teh atau susu.

Lambat laun karena aku sudah ingin begitu melihat tubuhnya itu, kuintip saja dia kalau sedang mandi. Tapi sayang karena lubang yang tersedia kurang memadai, yang terlihat hanya pantatnya saja, soalnya terlihat dari belakang. Kadang-kadang terlihat depannya hanya tidak jelas, payah deh. Nah pada suatu hari aku nekat. Kupanggil dia untuk pijati aku, oh iya nama dia Ine.
"Ine.. pijitin saya dong, saya pegel banget nih abis maen bola tadi", kataku.

"Iya Mas, sebentar lagi ya. Lagi masak air nih, tanggung", jawabnya.
"Iya, tapi cepet ya. Saya tunggu di kamar saya."
Cihuy, dalam hati aku bersorak. Nanti mau tidak dia ya aku ajak begituan. Lalu kubuka bajuku sambil menuggu dia. Lalu pintuku diketok,
"Permisi Mas", ketoknya.
"Masuk aja Ne, nggak dikunci kok", lalu dia masuk sambil bawa minyak buat mijit.
Mulailah dia memijatku. Mula-mula dia memijat punggungku dan sambil kuajak ngobrol.
"Kamu sekolah sampai kelas berapa Ne?" tanyaku.
"Cuma sampai kelas tiga aja Mas, soalnya nggak ada biaya", jawab dia.
"Sekarang kamu umur berapa?" tanyaku lagi.
Dia menjawab, "Umur saya baru mau masuk 12 Mas."
"Udah gede dong ya", kataku sambil tersenyum.

Lalu aku membalikkan badan, "Pijitin bagian dadaku ya..." pintaku sambil menatap memohon. "Iya mas", katanya. Dia memijati dadaku sambil agak menunduk, jadi baju yang dia pakai agak kelihatan longgar jadi aku bisa melihat bra yang dia kenakan yang menutupi dua buah payudara yang masih baru tumbuh. Wah, kemaluanku jadi tidak karuan lagi rasanya. Dan aku juga menikmati wajahnya yang masih polos itu. Begitu dia selesai memijati dadaku, aku langsung bilang, "Pijitan kamu enak", terus aku nekat langsung meraba payudara dia yang imut itu, tapi ternyata dia kaget dan langsung menepis tanganku dan langsung lari dari kamarku. Aku kaget dan jadi takut kalau dia minta berhenti dan bicara dengsn ibuku. Gimana nich? aku langsung dihantui rasa bersalah. Ya sudah ah, besok aku minta maaf saja dengan dia dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Benar saja, besok itu dia ternyata agak takut kalau lewat depanku. Aku langsung bicara saja dengan dia.
"Ne... yang kemaren itu maaf ya... Saya ternyata khilaf, jangan bilang sama Ibu ya."
"Iya deh Mas, tapi janji nggak kayak gitu lagi khan, abis Ine kaget dan takut", kata dia.
"Iya saya janji", jawabku.

Sebulan setelah peristiwa itu memang aku tidak ada kepikiran untuk menggituin dia lagi. Dan dia juga sudah mulai biasa lagi. Tapi pada suatu hari pas aku sedang mencari celanaku di belakang, mungkin celanaku sedang dicuci. Soalnya itu celana ada duitku di dalamnya. Yah basah deh duitku. Eh, pas aku lewat kamar si Ine, kelihatan lewat jendela ternyata dia lagi tidur. Rok yang dia pakai tersibak sampai ke paha. Yah, timbul lagi deh ide setan untuk ngerjain dia. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Akhirnya aku menemukan ide, besok saja aku masukkan obat tidur di minumannya. Dan aku menyusun rencana, bagaimana caranya untuk memberi dia obat tidur.

Besok pas sedang makan dan kebetulan rumah sedang sepi, aku minta dibuatkan teh. Setelah selesai dia buat dan diberikan ke aku. Kumasukkan saja obat tidur ke teh itu. Terus manggil dia,
"Ne... kok tehnya rasanya aneh sih?"
"Masa sih Mas?" kata dia.
"Cobain saja sendiri", dia langsung minum sedikit.
"Biasa saja kok Mas..." ...

Enaknya Di Perkosa Pembantu Sendiri

NIKMATNYA DIPERKOSA

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulitkuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliahdulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira. Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudibekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu. Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktusemakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati. Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggusetelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah. Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku. "Aku takut kamu malah kecewa sayang," katanya dengan tatap sedih suatu malam. Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai
tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing. Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagaipembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Mamanberusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turuttinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu. Malam itu entah apa yang adadipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam,dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang. Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihatjelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi. Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap danmeraba bagian tubuh sensitifku. "Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu," katanya sambil mulai menciumi sekujurtubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil. Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TVsudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yanglayu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku l elah sendiri. Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet
dengan vibrator elektrik. Alatitu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolakmenggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannyadengan orang lain, bukan dengan suamiku. Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu. "Ohh Mass ngghhss," aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginakuyang sudah banjir dengan penis buatan itu. Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yangsudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis. "Maafkan aku sayang," hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi. "Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok," balasku sambil mengecupnya. Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksualdengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku. Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah
atau sebaliknya rumah-kios. "Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?," tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan. "Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut," jawab Ijah. "Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka," setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka. Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka,dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit. "Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpungmasih buka," kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku. "Eh.. ibu.., nggak apa kok bu,cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberiIjah," Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya. Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orangkaya yang juga berprofesi matang. Aku lalu duduk ditepi ranjangJaka sambil mengusap dahinya. "Mana yang sakit Jak?" tanyaku seraya mengusap perutnya. "Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas," jawabnya. Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalikcelana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah danmenarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya. Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudahseperti kerabat sendiri
Tapi malam itu aku jadi kagetdan tersentak. Aku mendapatibukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan. Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengarsuara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda. Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu. "Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya," ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya. "Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya," balas Jaka. Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamikuyang layu itu. Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jakakemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijahmengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya kedalam vagina Ijah. "Nghhss Jak.. ohh," Ijah mulaimendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya. Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi. Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja
sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan peniskaret lagi, dan lagi. Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasakurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku. "Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya," suara Ijah menawariku usai makan malam. Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini. "Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..," ujarku sambil berjalan menuju kamar. Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku darikaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.
Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun. "Selamat malam nyonya sayang," suara Maman tiba-tiba mengejutkanku. Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liarmenatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriaktapi mulutku tertutup lakban. "Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada," Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri. Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun,
dengan bidang dada dan ot otperut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat. Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yangsebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari. "Eemphh.. mmffhh," aku berusaha bergerak berontakketika Maman mulai menyentuh tubuhku. Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku. "Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,"Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.
Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jari-jarikasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jariitu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku. "Mmffhh..," meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya. Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut danterus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengajadigesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawanankumembuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman. "Gimana nyonya? Enak nggak?," tanya Maman sambilmenatapku. Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudahbasah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku.Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujungkaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku. "Mmmffhhpp..," kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu. Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki denganpenis yang normal dan ereksitotal, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengankepuasan. "Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya
sampai keluar airnya. Janganberteriak ya nyah," ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut. Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara,tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi. "Ohh.., uhh.. adduuhh..," hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembalimenjilati vaginaku. Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindudisetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu. Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkanpenisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu. "Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh," aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam. Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar b agi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku. "Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik," celoteh Maman sambil kembalimenindih tubuh bebasku. Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnyakedalam vaginaku. "Ouhhggff.. ah Kang Maman..,"bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku. Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapijustru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.
"Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh," Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dantetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku totalmelayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku. Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antarabibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang. "Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh," kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku. "Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh," Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku. Maman rebah diatas tubuhku.Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku. Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman. "Maafkan saya nyonya, sayakhilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup," Maman membuka bicara. Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniatmemperkosaku. "Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi," tutur Maman mengiba. "Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamarsana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu," kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku. Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosadan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku
pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya. Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku.Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta. Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi. Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larutmalam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku. "Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin," aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam. Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku. "Minn.. Minaahh..," sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala. "Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh," segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnyamencari Minah. Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir. Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak
telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dancelana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktusantai kami. "Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,"Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat. "Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip," tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku. Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum merekamerapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur. "Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?," Minah gugup melihatku ada di dapur. "Iya.. iya, tapi lain kali janganceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini," kataku pada Minah, Minah manggut-manggut. Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering. "Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahanyang harus kelar malam ini," begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat. Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu. Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segarrasanya. Hujan masih lebat. "Permisi Bu, mau ikutan nonton," suara Jaka membuatku sedikit terkejut. "Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?," aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku. "Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu" "Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel," aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.
Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadakupasti terlihat Jaka. "Kamu bisa mijitin Jak?," pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku. "Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil," Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku. "Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil," aku rebah dengan posisi menelungkup. Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku. "Permisi loh Bu," Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku. "Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih," "Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape," "Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel," perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri. Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu. "Badannya mau dipijit juga Bu?," "Iya dong Jak, sekarang pung gungku pijitin gih," Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku. "Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit," aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku. "Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak," suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD. "Jak?,"
"Ehh.. saya Bu," suara Jaka agak serak menahan nafsunya. "Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini," aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar. Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampaiseparuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat darisela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang. Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang. "Ohh.. cantik sekali kamu Bu..," Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.
"Ahhss Mas Rud..," aku pura-pura ngigau. "Iya sayang.. ini Mas Rudi," Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.
Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku. "Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..," masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakinsemangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya. Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka sudah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membuat nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus majikannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri sampai bugil. Wah walau bertubuh pendek dan kurus, tapi penisJaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman walau pun lebih langsing. Aku masih pura-pura tidur, Jaka mengangkat dasterku dan bebas melototi vaginaku yang memang tak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dia naik ke sofa tempatku berbaring. "Duhhss, Mass.. Rud, cepeetaan dong.. Annii nggak tahaan.. aahhmmpp," belum selesai ceracauku, Jaka sudah menyumpal bibirku dengan mulutnya. Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai amblas dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya. "Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Ani memekmu enaak..," Jaka terus menggenjotku. "Aahh.. ohh..," aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka. Tapi rupanya gerakanku itu salah, karena membuat nafsuJaka tak terkendali. Baru limamenit gerakan pinggul kulakukan, tubuh Jaka sudahmengejang kaku diatas tubuhku. "Ahh.. uueennaakk.. sayaang," crot.. crot.. Jaka orgasme karena nafsu yang sangat tinggi akibat goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku
kecewa, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot. "Jaka.., apa-apaan kamu ini hah..," sergahku pura-pura marah. Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya d i lantai. "Jangan berteriak Bu," pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut. "Sekarang diam, dan Ibu harus nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat," teriak Jaka sambil menunjuk sisi sofa. Hujan masih lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri tepat dibelakangku. "Nah.., akan kubuat Ibu lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu," Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok tepat di belahan bokongku. Tangannya menyibak bongkahan bokongku sehingga vaginakujelas terlihat olehnya, setelah itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku. "Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak," aku tak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali. Mendengar desahku Jaka makin berani, kini pisau ditangannya sudah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Cukup lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, sampai kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi karena orgasmeku batal, tapisetelah jilatan itu lepas, ternyata penis Jaka sudah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku. "Ahh, enaak ya Buu," Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur. Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku semakin merasa mau jebol. Posisi nunggingku sudah utuh, tangan tak lagi menyangga tubuh. Kini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedangdi setubuhi jantannya. "Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..," pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan didinding vaginaku menjepit-
jepit penis Jaka yang masih aktif. Tapi tak lama berselang, Jaka pun sampai puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku. "Ahh Nyah.. ohh," Jaka masihmenidihku, dan posisi kami masih seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama. Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu sampai akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku. Paginya aku terbangun saat Minah menggoyang-goyang bahuku. "Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?," suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur disofa tengah. "Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih," aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka sudah tak ada entah di mana dia. Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dia cuma bilang ke Ijah kalau dia punya masalah sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi sampai terdengar Mas Rudi, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, seharusnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya. Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai majikan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi selesai memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Rudi pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berbicara dengan kami di ruang tamu. "Anu Pak Rudi, kami salah pak.., anu pak," Maman gagap. "Ada apa Pak Maman bicara saja," dorong Mas Rudi. Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selama ini, tapi setelah itu aku lega. "Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami harus nikah," pengakuan Maman membuatku agak terkejut sekaligus kecewa, apalagi Jaka sudah pergi juga. Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini. Singkatnya sore itu Mas Rudi mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus membayarpesangon kerja mereka.
Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Rudi yang selalu pulang larut malam. Meski dua pembantu lelaki itu sudah tiada tapi kenangan bersama mereka selalu kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Rudiyang tak bisa berdiri lagi. Sejak kepergian Jaka, Mamanse rta Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya teman setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kehidupan itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, tentu saja dibantu Ijah. Siang itu tak seperti biasanya Mas Rudi pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Rudi turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule. "Ani.., kenalkan ini Bruce, teman kameraman TV Australia," kata Mas Rudi menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman. Setelah kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Rudi mulai menceritakan siapa Bruce. Bruce adalah pria asal Australia berusia 28 tahun yang sudah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Bruce bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Bruce sudah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M. "Bruce akan menginap disini beberapa hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau harus nginap di hotel. Toh aku juga pernah liputan bareng dia di Jakarta," Mas Rudi menjelaskan. Singkatnyauntuk beberapa hari Bruce menginap di rumah kami di Kota M. Sore itu, hari ketiga Bruce menginap di rumah kami. Ijah masih sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Rudi baru saja pergi ke redaksinya. Bruce bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal. Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membuat semua wanita tergila-gila padanya. Bruce berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Menggunakan kaos ketat dancelana pendek ketat pula, lekuk tubuh atletis Bruce makin mempesona dihiasi titiktitik keringat yang membasahi. "Istirahat dulu Bruce.., ini
kubuatkan es limon untukmu," aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Bruce menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama. "Kamu baik sekali Ani.., pasti Rudi bahagia punya istri sepertimu," Bruce memujiku tulus. "Makasih Bruce, kamu ini adasaja," "Aku juga punya istri, dan rindu juga karena dia di Australia," Bruce bercerita. Rupanya selama tiga tahun diJakarta, Bruce hanya sesekali pulang ke Australia, atau istrinya yang ke Jakarta. "Kamu bisa tahan ya Bruce," aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku memang. "Tahan apa Ani?," "Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri," aku tertunduk malu. "Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau masalah seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja," katanya. Kami pun terlibat obrolan seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Rudi kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Rudi sudah tak mampu menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana sampaikini kami tak kunjung punya anak. Malam mulai merayap, kami sudah selesai makan malam tapi Mas Rudi belum juga pulang. Sampai akhirnya jam 9 malam Mas Rudi mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang karena ada berita yang harus dikejar dan ditunggu sampai malam. Bruce sudah masuk ke kamartidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku sudah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.
Malam itu akhirnya Mas Rudi pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Rudi mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai,Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang masih melekat ditubuhku. "Ahhmm.. Mas," aku bersuaramanja tetap terpejam. Mas Rudi semakin aktif menciumiku. Dasterku dibuka bagian atas dan susuku mulaidiisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi bagian bawahku. Sentuhan dan isapan Mas Rudi benar-benar lain malam ini, membuat birahiku seketika melonjak naik
Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi bagian vitalku, aku sampai basah kuyup dibuat kenikmatan. Tiba-tiba Mas Rudi mengubahposisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungkusetelah menarik turun dasteryang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku sehingga dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Rudi menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan tepat dibelahan vaginaku. "Ouhh..," aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Rudi mulai mengocok vaginaku dari belakang. Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku sudah melayang dan nyaris sampai puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang sudah monyong-monyong kenikmatan. "Kok berhenti mas..," aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Rudi. Mas Rudi diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tak bersuara. Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Rudi, aku mencoba meraih bagian celana suamiku. Tapi, astaga,punya Mas Rudi ternyata bangun malam ini, tegak dan terasa keras. Karena bingung campur penasaran, kupicingkan matadan segera berbalik kebelakang. "Haahh, Bruuccee.., apa-apaan ini?" aku sangat terkejut karena ternyata yang sedang mencumbuiku ternyata Bruce, bukan Mas Rudi. Bruce juga terkejut, mungkin tak mengira kalau aku akan bangun. Tiba-tiba tangan kekar Bruce membekap mulutku dan ia punsegera menindih tubuhku. "Ayo Anni, please.. Tolong aku, ini sudah tanggung.., jangan melawan kalau tak mau kukasari," Bruce sedikit mengancamku. Keadaan memang sudah tanggung, aku dan Bruce sudah sama bernafsunya. Tapi aku harus melawan, akutak boleh begitu saja pasrah,aku gengsi dan malu dong. Namun aku tak berkutik ditindih berat tubuh Bruce. "Jangan Bruce.., aku takut Rudi tahu," pintaku, walau sebenarnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi. "Hsstt.., Ani.. Tolong aku. Oke aku tak akan masukan
penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku sampai aku puas ya..," Bruce merengek. Bruce aktif lagi mencumbuiku. Sudah kepalang tanggung pikirku, sehingga akupun pasrah terbawa cumbuan Bruce. Dengan posisi menindihku, Bruce membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang sudah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tak masuk keliang nikmatku, namun gesekan penis Bruce ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membuat vaginaku menerima rangsangan yang cukup dibagian klitorisnya. "Emmhh.. Bruuccee..," akhirnya erangan nikmatku keluar juga. Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecilmulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme. "Ani..," Bruce memanggilku dan menghentikan aktifitasnya. Setelah itu kurasa Bruce memindahkan posisi penisnya sehingga ujung penisnya tepat berada dibelahan bibir vaginaku yang sudah basah kuyup. Bruce kini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang memang sudah resah menunggu. Akhirnya aku dan Bruce bersenggama, ya Bruce jadipejantanku malam itu. Kuakui mungkin Bruce adalah pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami lakukan aktifitas seks sampai empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis. Namun kenangan bersama Bruce tinggal kenangan saat esok paginya Bruce harus kembali ke Jakarta. Aku Ani, kembali kesepian. Terima kasih Bruce, untuk kenangansatu malam yang sangat berkesan. ***** Seminggu ini rumahku sering dapat telepon gelap yang intinya mengancam Mas Rudi suamiku, lantaran berita yang dibuat Mas Rudi menohok salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah belakangan yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga. "Mas.., kita pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus," pintaku pada Mas Rudi malam itu. Kamisudah berbaring di kamar karena memang jam sudah menunjuk angka 10 malam. "Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak akan ada apa-apa," Mas Rudi menjawab sambil memeluk tubuhku. Mas Rudi kemudian menjelaskan padaku tentang berita yang dibuatnya itu. Katanya masalah dengan pejabat itu sudah selesai duahari lalu, damai. Tapi aku masih saja trauma dengan kejadian pertama yang berakibat fatal hingga penganiayaan yang membuat penis Mas Rudi mati total itu. "Tapi Mas..," "Sudah saya ng.., kamu nggakusah takut. Itu resiko kerja namanya," katanya lagi. Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi memang aku sangat capek mengurus kios hanya dibantuIjah, dan Mas Rudi pun kelihatan letih seharian bekerja. "Sayang.., bangun sayang..," suara Mas Rudi membangunkan aku tengah malam. "Tuh dengar.. Sepertinya adayang masuk ke rumah," kata Mas Rudi saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar banyak langkah kaki dan suara berisik. Mas Rudi segera bangkit dan membukapintu kamar. Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Rudi, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Rudi hingga ia terpental ke lantai.
"Jangan berteriak..!!," empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat MasRudi pingsan akibat benturanpintu. "Ha.. Ha.. Ha, sekarang kalianakan rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kamu pelacur, ayo kesini," lelaki yang bertubuh paling besar memanggilku kasar dan menarik tubuhku turun dari kasur. "Sssiapa kalian.., apa salah kami?" aku mengiba. Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami memang sedang dirampok. Tapi setelah mereka menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menghajar Mas Rudi karena berita pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka jugarupanya sudah meringkus Ijah, dan dibawa serta kekamar kami. "Nyaahh, toloong Nyah.." Ijahdipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Rudi ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terikat di kasur sedangkan Mas Rudi diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi. "Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar," kata lelaki yang paling besar kepada yang lain. "Oke komandan, segera laksanakan," dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Rudi. "Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..," Mas Rudi menghardik mereka ketika sadar. Tapi posisi yang terikat membuat Mas Rudi takbisa berbuat banyak, apalagisetelah itu mulut Mas Rudi ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula. "Heii sombong, kamu pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami akan lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pembantu dan istrimu yang cantik dan mulus itu," tangannya menuju arahku dan Ijah. Setelah mengatakan akan memperkosa aku dan Ijah,
keempat orang itu lalu saling bagi. Yang paling besar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar. "Hmmpp..," Mas Rudi hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua. Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah akan jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk menonton dikursi dekat Mas Rudi berada. "Tenang sayang.. Kamu pasti asyiik kubuat," jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya karena posisi Ijah tak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat. Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah. "Ehgghh.. Mmmppffhh," ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes. Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terlihat karena diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi beberapa menit kemudian Ijahsepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi. "Mmmpphhff.. Eengghh..," tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya. "Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya," jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil juga. Kini jangkung siap menyetubuhi pembantu kami itu. Penisnya yang lumayan besar sudah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah sudah birahi denganmata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terlihat memburu dari dadanya yang turun naik. Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung amblas total di vagina Ijah.
"Ngghh..," Ijah menggelinjangmenerima penis jangkung. "Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang," jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah. Tiga lelaki dikursi ternyata sudah mengeluarkan penis mereka dari balik celana sambil mengocoknya dengan tangan sendiri. Sementara Mas Rudi kulihat pun terpana dengan adegan jangkung danIjah. "Aaahh.. Ommhh ammpuhhnn omhh.. Engghh," Ijah mendadak mengeluarkan desis kenikmatan waktu jangkung membetot lakban di mulutnya. "Ha.. Ha tuh kan akhirnya ennaak, makanya jangan ngelawan yah..," jangkung bangga terus nggenjot Ijah. Saat itu terus terang aku mulai membayangkan betapa sebentar lagi aku pun akan merasakan kenikmatan seperti Ijah, dientot lelaki asing. "Iyaahh Oom terusinn.., aku sudah lama nggakk ginian," Ijah menceracau. "Ohh sayanghh, omhh nggak tahaann aahhggkk," si jangkung rupanya over nafsu. Ijah belum apa-apa jangkung sudah kejang diatas tubuh ijah. "Wah.. Payah lo kopral," si botak menghardik. "Ayo sana biar Om botak yang selesaikan sayang," botak mendekat tubuh Ijah yang pasrah, jangkung lunglai disamping Ijah. "Ohh.. Omhh botak.. Cepethhaann puasiinn Ijahh..," Ijah rupanya sudah dilanda birahi yang sangat. Matanya merem melek dan pinggulnya bergoyang erotis meminta penis si botak segera masuk. Botak segera menindih tubuh Ijah setelah iamelucuti pakaiannya sendiri. Penisnya yang gemuk pendekmendesak masuk ke vagina Ijah yang sudah becek kena sperma jangkung. "Duhh omhh.. Ennakhh Ijhaah omhhpff..," bibir Ijah langsungdikulum sambil tubuh botak menggenjotnya kuat. Mereka bermain imbang, desahan dangerakan tubuh mereka mulai mempengaruhi dua lelaki lain dan Mas Rudi yang terus melotot ke arah Ijah dan botak. "Mpfhh.. Huhh sayanghh.. Enak sekali vaginamu sayanghh..," "Iyaahh omhh.., Ijaahh keluuaarrhh.. Ouhhgg omnhh nnaakkhh omhh..," tubuh Ijah kaku dengan tangan memelukkeras tubuh botak. "Ahhggkk.. Ayoo saynggh.. Omhh jugaa nihh," Botak pun orgasme. Botak berbaring diatas tubuh Ijah tanpa mencabut penisnya, Ijah
malah senang dan memeluk botak sambil menciumi pipinya. Lelaki berbadan gemuk bangkit dari kursi dan melucuti pakaiannya. Penisnya yang tegang mengacung acung, dan ia bergerak ke arahku. "Hei brengsek.. Lihat ya sebentar lagi istrimu ini akan merengek juga seperti pembantumu itu.. Ha.. Ha," ia menghardik Mas Rudi. Mas Rudi terlihat pasrah, sementara aku sendiri bingung harus bagaimana dalam posisi terikat, terlentang, dan telanjang seperti itu. Tanpa dikomando si gemuk langsung saja menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. Aku berusaha berontak tapi percuma, aku terikat. Kutatap Mas Rudi meneteskan airmata saat itu. Aku mau marah pada si gemuk, tapi posisiku sulit. Apalagi terus terang aku punmulai dijalari birahiku. Kenyataan harus terjadi, akuistri yang sudah berbulan bulan ini tak pernah menikmati permainan seks suamiku, tentu tak bisa menahan rangsangan yang sedang terjadi pada tubuhku.
"Mhhppmm," aku merintih saat lidah si gemuk mulai menjilati bibir vaginaku. "Woowww..Mulus sekali pelacur yang satu ini.., gimana sayanghh marah ya? tapi kok vaginanya sudah banjir," si gemuk mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Mas Rudi. "Hmmpp," Mas Rudi bersuara,tetapi si tubuh besar langsung menggamparnya. Situasi sudah sulit, lidah si gemuk semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku. "Ehmmhh," aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu,pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah si gemuk divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan gemuk itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis si gemuk mengoyak vaginaku yang sudah gatal. Tapi rupanya si gemuk sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk kemenit lima belas menerjangvaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga gemuk menyetubuhiku. "Mhhppff.. Engghh..," aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme
dengan belasan kedutan kecildivaginaku. Aku malu sekali pada Mas Rudi yang terus menatapku, tapi apa daya, maafkan aku Mas, aku tak berdaya. "Haa.. Haa, keluar juga airmu sayanghh. Tapi biar yang puaskan kau lagi si jendral ya. Aku akan lanjutkan dengan Ijah," gemuk meninggalkanku dan menuju Ijah. Disingkirkan tubuh botak yang masih lemas diatas tubuh Ijah, lalu gemuk menyetubuhi Ijah. Astaga, Ijah rupanya birahi lagi saat aku dikerjai lidah gemuk tadi,sehingga saat gemuk membenamkan penisnya ke vagina Ijah, dia malah menggebu gebu menerima. Aku sungguh iri dengan Ijah yang sudah klimaks pakai penis tapi dikasih lagi sama si gemuk. Huh apa aku kurang sexy, pikirku. Belum habis pikir, mendadak kurasa tubuhku ada yang meraba-raba lagi. Rupanya situbuh besar yang dipanggil jenderal itu sudah telanjang dan sudah berada disisiku sambil menciumiku. Ciumannyasungguh lembut tak seperti gemuk yang agak kasar dan terburu-buru. "Aku akan memberimu kepuasan sayanghh, kamu cantik bidadariku," tak kusangka Jenderal membisikan kalimat itu ke telingaku, tentu Mas Rudi tak mendengar karena bisikannya sangat pelan. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas mendapat bisikan penuh kasih begitu gairahku naik lagi. Jenderal lalu membuka lakban dibibirku dan ikatan ditanganku, sedangkan kakiku tetap terikat diujung dipan bawah. Kini tanganku sebenarnya bebas tapi kenapa aku tak melawan? Aku sengaja memukul dada bidang Jenderal hanya untuk menjaga perasaan Mas Rudi, dan Jenderal yang tahu maksudku kembali menangkap tanganku dan disekapnya dengan posisi menindihku. Saat itu kelamin kami sudah bertemu walau penis Jenderal yang tegak belum dimasukan ke vaginaku. "Jangann.. Kumohonn jangann..," aku merintih antara penolakan karena adasuamiku, dan harapan agar Jenderal segera menyetubuhiku karena birahiku sudah tinggi dan menggebu. "Tenang sayang. Aku sudah tahu semua file rumah tanggamu dan si brengsek itu. Aku tahu kalau Rudi suamimu tak lagi mampu melayani kebutuhan sexmu,"
Aku tersentak mendengar ucapan jenderal, lalu aku memandang Mas Rudi, Mas Rudi tampak pasrah memandang tubuh istrinya yang sesaat lagi akan menyatu dengan tubuh lelaki lain. Jenderal kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpasadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku. "Mhhppff.., aahh.. Enghh..," aku merintih nikmat tak pedulilagi Mas rudi menatap kami, saat penis besar Jenderal mendesak masuk keliang nikmatku. "Ouhh.., sudah kusangka vaginamu masih rapat sayanghh.., nikmati permainan kita ya manis," jenderal berbisik lagi membuatku semakin melayangdipuji-puji. Penis Jenderal keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar. "Hmm.., puaasshhkan aku sayangghh..," tak sadar aku membalas bisikan Jenderal itusambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.
"Chhaantikhh kamu sayanghh.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini," "Aohh.. Iyaahh sayanghh.. Akhuu milikmuh saat ini..," Kuakui permainan lelaki yang dipanggil rekannya sebagai jenderal memang luar biasa,
romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh jenderal semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak bisa membohongi Mas rudi kalau aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak jenderal menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku. Ia lalu membuka ikatan di keduakakiku. "Ayo sayang kita berdiri," jenderal menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku ke arah kursi Mas Rudi. Posisiku jadi tepat berhadapan wajah dengan Mas Rudi suamiku, dan jenderal dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku malu sekali saat itu, aku harus sekuat tenaga menyembunyikan wajah terangsangku dihadapan MasRudi, tapi dilain sisi kenikmatan yang sangat dari penis jenderal menghujam di vaginaku dari belakang. "Ahh.. Ouhh.. Maaffkhaann akuhh mass..," hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis jenderal masuk ke menit ke sepuluh dalam posisi nungging itu. "Ayohh sayang.. Lepas lakban suamimu," jenderal memerintahku, dan kubuka lakban dimulut Mas Rudi. AnehMas Rudi tak lagi marah, ia terlihat sangat pasrah. "Masshh," kulumat bibir Mas Rudi dan Mas Rudi mengangguk lalu membalas lumatan bibirku. Jenderal semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudahpuncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpuldibagain pantat, paha, vagina dan klitorisku. "Ahh sayyanngghh.. Ohh.. Mmffhhpp..," aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodokpenis jenderal. Bibir Mas Rudikembali kuhisap kuat. Belum habis orgasme yang kurasakan, Jenderal menariktubuhku dari belakang dan menggendongku. Posisiku seperti anak kecil yang dibopong bapaknya yang bertubuh besar dari belakang. "Ayo maniss.. Ini lebih nikmat sayanngg.., sekarang merengeklah sepuasmu honneyy," dalam posisi itu penis jenderal masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.
"Akhhss.. Sahhyaangghh..," aku tuntas sudah, orgasmeku sempurna ditangan jenderal. "Oghhkk.. Terima maniku sayanghh," jenderal orgasmedengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dindingrahimku. Lalu jenderal menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangankekasih. "Terima kasih sayang.., kalausaja kau istriku aku pasti bahagia," jenderal kembali melumat bibirku. Aku membalasnya dan dalam hatiku pun menjawab seandainya juga kau suamikujenderal. Aku tak peduli lagi malam itu, aku pun lemas dibuai nikmat hingga akhirnya tertidur lelap. ***** "Sayang.. Bangun sayang," suara Mas Rudi membangunkanku. Ternyata hari sudah pagi, dan empat lelaki itu sudah tak ada lagi. Aku masih telanjang dan hanya terbungkus selimut, Ijah masih tertidur telanjang juga dilantai. Sedangkan Mas Rudi terlihat lusuh. "Oh.. Mas, maafkan aku semalam Mas.. Aku seharusnya melawan," kupeluk suamiku, aku takut kehilangan Mas Rudi. "Nggak sayang, aku yang salah.., Harusnya aku bisa melindungimu," Mas Rudi memelukku erat. Sejak kejadian itu, kami pindah rumah di wilayah yangagak jauh dari kota M, tempat Mas Rudi bekerja, tapimasih satu provinsi dengan kota M.

Jumat, 03 Oktober 2014

Anak Perempuan Pembantuku Jadi Isteri Kedua Yang Memuaskanku (Cerita Dewasa)

Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku agak keberatan jika wanita itumengajak anaknya untuk bekerja di rumah kami yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah kuyakinkan akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak gadisnya bekerja sebagai pembantu di rumah kami, alasanku karena istriku sedang sibuknya mengurus bisnisMLM-nya dan karena pernikahan kami yang sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan, sehingga anak gadis itu bisa kami anggap sebagai anak kami sendiri. Keesokan harinya sekitar jam 5:00 sore wanita itu dan anak gadisnya telah berada di rumahku untuk melakukan tugas sebagai pembantu, sebut saja wanita itu Nursyfa dan anak gadisnya Santi. Karena rajinnya kerja kedua pembantuku itu, maka Santi kuijinkan untuk meneruskan sekolah atas tanggunganku. Kulihat di wajahnya tersenyum kegirangan. “Terima kasih Pak, Santi senang sekali bisa meneruskan sekolah, terima kasih Pak, Bu.” “Ya, tapi kamu harus rajin belajar, dan kalau sudah pulang sekolah kamu harus bantu ibumu,” kata istriku sambil berpelukan dengan Santi, kulihat di wajah ibunya Nursyifa pun terlihat keceriaan. ( cerita dewasa ) Enam bulan berlalu sejak Nursyifa dan Santi bekerja di rumah kami, aku berbuat mesum dengan Nursyifa sewaktu istriku pergi keluar kota untuk urusan bisnis MLM-nya. Hari itu hari Sabtu, malamnya istriku ke Jogja dengan kereta api, karena Sabtu kantor libur sementara Santi sedang sekolah, aku melihat Nursyifa yang sedang berdiri di dapur membelakangi aku yang sedang masuk dapur selesai mencuci mobil. Aku tertegun melihat tubuh Nur yang mengunakan baju terusan warna hijau muda agak tipis sehingga terbayanglah tali BH dan celana dalam yang keduanya berwarna hitam menutupi bagian vitalnya. Pantatnya yang padat dan seksi serta betisnya yang terbungkus kulit putih dan mulus bentuknya seperti bunting padi, membuat aku merasa tersedak seakan-akan ludahku tidak bisa tertelan karena membayangi tubuh Nur yang indah itu. Tiba-tiba Nur berbalik dan kaget melihatku yang baru saja membayanginya. “Eh.. Bapak, ngagetin saya aja.” “Eh.. Nur boleh saya duduk, saya mau tau kenapa kamu cerai, kamu mau menceritakannya ke saya.” “Eng.. gimana yach.. saya malu Pak, tapi bolehlah.” Akhirnya aku duduk di meja makan sementara Nur menceritakan sejarah hidupnya sambil terus bekerja mempersiapkan makan siang untukku. Akhirnya aku baru tahu kalau Nur itu menikah di usia 15 tahun dan setahun kemudian dia melahirkan Santi dan dia bercerai 2 tahun yang lalu karena suaminya yang suka mabuk, judi, main perempuan dan suka memukulinya dan pernah hampir membunuhnya dimana di punggung Nur ada bekas tusukan pisau. Aku tertegun mendengar ceritanya sementara Nur seakan mau menangis membayangi jalan hidupnya kulihat itu di matanya sewaktu dia bercerita. Karena rasa kasihanku kurangkul tubuh Nur. “Sudah, Nur.. jangan nangis.. sekarang kamu sudah bisa hidup tenangan di sini bersama anakmu, lupakan masa lalumu yah.. saya minta maaf kalau membuat kamu harus mengingat lagi.” “Iya.. Pak.. saya dan Santi.. berterima kasih sekali.. Bapak dan Ibu baik.. pada kami.” “Ya.. sudah.. sudah.. jangan nangis terus.. nanti Santi pulang.. kamu malu deh.. kalau lagi nangis.” Nur menangis dalam rangkulanku, air matanya membasahi kausku tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain karena kedua payudaranya menyentuh dadaku yang membuat gejolak nafsuku meningkat. Tanpa sengaja bibir mungilnya kucium lembut dengan bibirku yang membuat dirinya gelagapan. “Aaahh.. Bapak!” Tapi kemudian dia membalas kecupanku dengan lembut sekali diikuti lidahnya memainkan lidahku yang membuat aku makin berani. “Pak.. sshh..” “Kenapa.. Nur..?” “Tidak.. Pak.. aahh.. tidak apa-apa.” Kuangkat roknya dan aku meraba pantatnya yang padat lalu kutarik ke bawah celana dalam warna hitam miliknya sampai dengkul, pahanya kuraba dengan lembut sampai vaginanya tersentuh. Nur mulai bergelinjang, dia membalas dengan agresif leher dan pipiku diciuminya. Kumainkan jariku pada vaginanya, kutusuk vaginanya dengan jari tengah dan telunjukku hingga agak basah. “Aahh.. Pak, enak sekali deh..” “Nur.. kalau kita lanjutkan di kamar yuk!” “Saya sih mau aja Pak, tapi kalau nanti Ibu tahu gimana?” “Ah, ibu khan lagi ke Jogja, lagi pulangnya kan hari Selasa.” Kugiring Nursyifa ke kamarku, sampai di kamar kututup pintu dan langsung kusuruh Nur untukmenanggalkan pakaiannya. Nur langsung menuruti keinginanku, seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia bugil. Yang agak mengagetkanku karena keindahan tubuh Nur. Nur dengan tinggi sekitar 167 cm memiliki payudara yang kencang dan montok dibungkus kulit yang putih bersih, pinggulNur agak kurus tapi pantatnya yang agak besar dan padat dan vaginanya yang ditutupi bulu halus agak lebat membuat aku seakan tidak bisa menelan ludahku. Kalau aku beri nilai tubuh Nur nilainya 9.9, hampir sempurna. “Bapak, baju Bapak juga dilepas dong, jangan bengong melihat tubuh Nur.” “Nur, tubuhmu indah sekali, lebih indah dari tubuhnya Ibu.” “Ah, masa sih Pak?” “Iya Nur, tahu gitu kamu saja yang jadi Ibu deh.” “Ah Bapak bisa aja nih, tapi kalau Nur jadi Ibu, Nur mau kok jadi ibu ke dua.” Aku langsung menanggalkan pakaianku dan batang kemaluanku langsung menegang keras dan panjang.Kuhampiri Nur langsung kucium bibirnya, dipeluknya diriku, tangan mungil Nur meraba-raba batang kemaluanku lalu dikocoknya, liang vaginanya kusentuh dan kutusuk dengan jariku, kami bergelinjang bersamaan. Kami menjatuhkan diri kami bersamaan ke tempat tidur. “Nur, kamu mau nggak hisap kontol saya, saya jilatin vaginamu.” Nur hanya mengangguk lalu kami ambil posisiseperti angka 69. Batang kemaluanku sudah digenggam oleh tangannya lalu dijilat, dikulum dan disedot sambil sesekali dikocoknya. Liang vaginanya sudah kujilati dengan lembutnya, vaginanya mengeluarkan bau harum yang wangi, sementara rasanya agak manis terlebih ketika bijiklitorisnya terjilat. Hampir 10 menit lamanya ketika keluar cairan putih kental membasahi liang vagina itu dan langsung kutelan habis. “Aaakkhh.. aakkhh..” rintih Nur kelojotan. Tapi lima menit kemudian giliranku yang kelojotan karena keluarlah cairan dari batang kemaluanku membasahi muka Nur tapi dengan sigap dia langsung menelannya hingga habis lalu “helm” dan batangku dibersihkan denganlidahnya. Setelah itu, aku merubah posisi, aku berbaring sedangkan Nur kusuruh naik dan jongkokdi selangkanganku. Lalu tangannya menggapai batang kemaluanku diarahkannya ke liang vaginanya. Tapi karena liang vagina Nur yang sudah lama tidak dimasukan sesuatu jadi agak sempit sehinggaaku bantu dengan beberapa kali sodokkan, baru vagina itu tertembus batang kemaluanku. “Blleess.. jlebb.. jlebb..” Kulihat Nur agak menahan nafas karena batangku yang besar dan panjang telah menembus vaginanya. “Heekkh.. heekkhh.. punya Bapak gede banget sih Pak, tapi Nur suka deh rasanya sodokannya sampai perut Nur.” Tubuh Nur dinaik-turunkan dan sesekali berputar, sewaktu berputar aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. “Nur, vaginamu enak sekali, batangku kayak diperas-peras oleh vaginamu, terus terang Bapak barukali ini merasakannya, Nur enak sekali.” Setengah jam kemudian, aku merubah posisi dengan batang kemaluanku masih di dalam vagina Nur, aku duduk dan kuangkat tubuhnya lalu kubaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dengan kaki Nur menggantung, kutindih tubuhnya sehingga membuat sodokan batangku jadi lebih terasa ke dalam lagi masuk vaginanya. “Aakkhh.. aakkhh, iya Pak enakan gaya gini.” Payudaranya yang mancung dan puting yang agak kecoklatan sudah kucium, kuremas dan kusedot-sedot. 15 menit kemudian kami ganti posisi lagi, kali ini kami berposisi doggie style, liang vaginanya kusodok oleh batang kemaluanku dari belakang, Nur menungging aku berdiri. Kuhentak batanganku masuk lebih dalam lagi ke vagina Nur yang hampir 15 menit kemudian Nur menjerit. “Akhh.. arghh.. sshh.. sshh.. Pak, Nur keluar nih.. akhh.. sshh..” Keluarlah cairan dari vagina Nur yang membasahi dinding vaginanya dan batang kemaluanku yang masih terbenam di dalamnya sehingga vagina itu agak licin, tetapi tetap kusodok lebih keras lagi hingga 10 menit kemudian aku pun berasa ingin menembakkan cairan dari kemaluanku. “Nur.. saya juga mau keluar nih, saya nggak tahan nich..” ” Pak.. tolong keluarin di dalam saja yach.. saya mau cobain kehangatan cairan Bapak, dan saya kan siap jadi ibu ke dua.” “Crroott.. croott.. crroott..” Keluarlah cairanku membasahi liang vagina Nur, karena banyaknya cairanku hingga luber dan menetes ke paha Nur. Lalu kulepaskan batangku dari vaginanya dan kami langsung terbaring lemas tak berdaya di tempat tidurku. Lima menit kemudian yang sebenarnya kami ingin istirahat, aku mendengar suara dari luar kamartidurku kami tersentak kaget. Setelah berpakaian kusuruh Nur keluar kamarku yang rupanya Santi ada di ruang makan, ia mencari-cari ibunya setelah pulang dari sekolah. Malam harinya setelah Santi tertidur, Nur kembali masuk kamarku untuk bermain lagi denganku.Keesokan harinya, setelah aku terbangun kira-kira jam 8:00, aku keluar kamar, aku mencariNur, tapi yang aku temukan hanya Santi yang sedang menonton TV. Rupanya aku baru ingat kalau setiap Minggu pagi Nur pergi berbelanja ke pasar. Setelah mandi kutemani Santi yang lagi duduk di karpet sambil nonton TV, sedangkan aku duduk di sofa. “Santi.. gimana sekolah kamu..?” “Baik.. Pak, bulan depan mau ulangan umum.” “Mmm, ya sudah kamu belajar yang rajin yah, biar Ibu kamu bangga.” “Pak, boleh Santi tanya?” “Iya, kenapa Santi..?” “Kemarin ketika Santi pulang sekolah, Santi kan cari ibu Santi, pas buka kamar Bapak, Santi melihat Bapak dan ibu Santi lagi telanjang terus Santi lihat kalau Ibu Santi ditusuk dari belakang oleh Bapak, ada sesuatu punya Bapak yang masuk ke badan ibu Santi, maaf yach Pak, Santi lancang. Mama Nur lagi diapain sih sama Bapak?” “Hah, jadi kamu sempat melihat ibumu telanjang.” “Iya Pak, tapi kok Mama Nur kayaknya keenakan ya. Santi jadi kepingin dech Pak kayak ibu Santi.” “Kamu serius San, kamu mau?” “Iya Pak.” Kulihat Santi tersipu malu menjawab pertanyaan dariku, sementara rok Santi tersingkap sewaktududuknya bergeser sehingga pahanya yang putih mulus terlihat oleh mataku yang membuatku langsung terangsang. Kusuruh Santi duduk dipangkuanku. “San, sini kamu duduk di pangkuan Bapak.” Ketika dia berdiri menujuku, aku membuka resleting celanaku dan kuturunkan celana dalamku lalu aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah menegang, sebelum Santi duduk di pangkuanku, celana dalamnya yang putih kuturunkan sehingga vagina mungil putih bersih milikgadis 13 tahun ini ada di hadapanku, menyerbakan aroma wangi dari vaginanya yang ditutupi bulu-bulu halus dan langsung kujilat dengan lembutnya. Santi memegang kepalaku dan tubuhnya menggeliat. “Aahh.. sshh.. enak.. Pak.. enak.. sekali.” Vagina Santi yang masih muda itu terus kujilati karena rasanya manis-manis asin. Santi punmakin menggelinjang, kira-kira 15 menit kemudian Santi mulai kejang-kejang dan basahlah vagina itu oleh cairan putih kental yang mengalir dari dalamnya, cairan itu kutelan habis. “Arghh.. arghh.. Pak.. ada yang keluar nih dari tempat pipis Santi.. eugh.. eugh..” Tubuh Santi langsung lemas tak berdaya, cepat-cepat kupangku. Batang kemaluanku yang mengeraskutempelkan pada vaginanya yang basah. Tubuhnya kuarahkan menghadapku, kemeja yang dikenakan Santi kulepas sehingga dia hanya mengenakan baju dalam yang tipis, payudara Santi yang baru tumbuh terbayang di balik baju dalamnya, segera kulepaskan sehingga di mukaku terpampangpayudara yang baru mekar ditutupi kulit yang putih bersih dengan dihiasi puting agak kemerahan, langsung kulahap dengan mulutku, kujilat, kugigit dan kuhisap membuat payudara itu makin mekar dan putingnya mengeras. Sementara Santi masih tertidur lemas, batang kemaluanku yang sudahmenempel di vagina Santi yang masih sempit kusodok-sodokkan agar masuk, karena vagina itu masih sempit. kumasukkan dua jariku untuk membuka vagina itu, kuputar kedua jariku sehingga vagina itu agak melebar dan basah. Setelah itu kucoba lagi dengan batang kemaluanku, kusodok masuk batanganku ke vagina Santi yang memang masih sempit juga walau sudah dibantu dengan jariku. Akhirnya setelah 20 kali kutekan, masuklah helm batanganku ke vagina Santi. Santi mulai tersadar ketika batanganku menyodokvaginanya, dia pun menjerit kesakitan. “Aawww.. aawww.. sshh.. sshh.. aawww.. sakit.. Pak.. tempat pipis Santi.. sakit awww.. aawww..” “Sabar sayang nanti juga enak.. sayang.. tahan ya.. sakitnya.. sebentar lagi..” Kupeluk tubuh Santi dan menenangkannya dari rasa sakit pada vaginanya yang robek oleh batangkemaluan milikku yang memang super besar. Sodokkanku pada vagina Santi kupelankan untuk mencegah rasa sakitnya dan 10 menit kemudian Santi merasakan kenikmatan. “Ahh.. ahh.. arghh.. arghh.. Pak.. sekarang tidak sakit lagi.. sekarang jadi enak.. aahh.. aahh..” Hampir setengah jam kemudian tiba-tiba Santi mengeluarkan cairan dari dalam vaginanya berikuttetesan darah dan langsung tubuh Santi lemas lagi dan pingsan. Aku menyadari bahwa aku telah membobol keperawanan Santi. “Arrgghh.. Pak.. Santi.. lemmaass..” Aku agak kaget juga melihat keadaan Santi yang secara tidak sengaja kubobol keperawanannya tapi karena sudah tanggung terus kugenjot batanganku ke vagina Santi yang sudah berdarah dan 10 menit kemudian keluarlah cairan dari dalam kemaluanku dengan derasnya memasuki liang vagina Santi hingga meluber ke pahaku. “Crroot.. crroott..” “Ssshh.. sshh.. aahh.. nikmatnya.. vagina.. gadis ini..” Langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Santi dan kubaringkan Santi yang pingsan di Sofa. Sisa cairan yang masih melekat di vagina Santi kulap dengan bajuku hingga bersih, sesudah itu kurapihkan baju Santi dan kubiarkan Santi yang masih pingsan tidur di Sofa, aku lalu membersihkan badanku sendiri. Sepuluh menit kemudian Nursyifa, datang dari pasar sedangkan aku sudah memakai baju lagi. Sejaksaat itu aku bermain dengan istriku jika dia di rumah, dengan Nur jika istriku pergi dan Santi sekolah, dengan Santi jika istriku dan Nur pergi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Bonus Video Klip

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes