Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2014

Thomas Alva Edison - Penemu Piringan Hitam

 Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai penemu proyektor film yaitu Thomas Alva Edison. Thomas Alva Edison merupakan pria berkebangsaan Amerika Serikat, yang lahir pada 11 Februari 1847 di Milan, O’hio. Thomas berhasil menemukan proyektor film pada tahun 1893. Sebelum membahas lebih jauh tentang penemuan proyektor film, kita akan membahas sedikit tentang perjalanan hidup Thomas.

Pada tahun 1854, keluarga Thomas pindah ke Port Huron, Michigan. Ibu Thomas bekerja sebagai guru, Thomas di ajar ibunya sendiri dirumah. Hal tersebut dilakukan karena Thomas di anggap sebagai siswa yang tertinggal dan tidak berbakat, sehingga gurunya memperingatkan Thomas kecil, bila ia tidak dapat belajar di sekolah, ibunya berikeras bahwa Thomas Alva Edison merupakan anak yang berbakat dan kemudian ibunya bertekad untuk mengajar thomas Alva Edison di rumah. Meskipun hanya belajar di rumah, Thomas kecil sudah menunjukkan keingintahuan dalam segala hal dan berantusias untuk mencoba segala hal.

Thomas Alva Edison - Penemu Piringan Hitam

Saat Thomas Alva Edison berusia sebelas tahun, ia telah membuat sebuah laboratorium kimia sederhana yang dibangun di ruang bawah tanah dirumah ayahnya. Setahun kemudian Thomas kecil telah berhasil membuat sebuah telegraf yang masih primitive, namun masih dapat digunakan. Di usia dua belas tahun, Thomas bekerja sebagai penjual Koran dan permen di atas kereta api untuk mengumpulkan uang yang digunakan untuk membiayai semua percobaan yang ia lakukan. Selain berjualan di atas kereta, untuk dapat memaksimalkan waktu senggangnya, ia meminta ijin perusahaan kereta api untuk membuat sebuah laboratorium kecil di salah satu gerbong kereta api, yang akan Thomas gunakan untuk melakukan percobaan serta membaca literature ketika ia sedang tidak berjualan.

Pada tahun 1868 Thomas Alva Edison mendapatkan pekerjaan sebagai operator telegraf di Boston, waktu luangnya digunakan untuk melakukan percobaan teknik dan akhirnya berhasil menemukan intercom elektrik. Thomas memperoleh hak paten pertama untuk alat electric vote recorder, namun tidak ada yang etrtarik untuk membeli alat tersebut. Pada tahun 1877 Thomas telah menemukan phonograph, ia menyadari sumber cahaya semacam itu sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Thomas mencurahkan segala pikiran, waktu dan tenaga serta menghabiskan uangnya sebesar 40.000 dolar dalam dua tahun untuk melakukan percobaan membuat lampu pijar.

Thomas Alva Edison telah berhasil menemukan proyektor untuk film-film kecil pada tahun 1879. Di tahun 1882 ia telah memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan serta rumah-rumah dengan jarak sejauh 1 km di kota New York, hal tersebut merupakan pertama kalinya terjadi di dunia, lampu listrik dipakai di jalan-jalan. Pada tahun 1890 Thomas mendirikan sebuah perusahaan General Electric. Thomas Alva Edison juga dikenal sebagai penemu dari lampu pijar.

Thomas berjasa dalam bidang perfilman, karena ia telah menggabungkan film fotografi yang telah dikembangkan oleh George Eastman menjadi industry film yang telah menghaslkan jutaan dolar seperti yang telah ada sekarang ini. Thomas membuat Black Maria, yaitu suatu studio film bergerak yang di bangun pada ajlur yang berputar.

Thomas Alva Edison meninggal pada 18 Oktober 1931 di usia 84 tahun. Pada hari pemakamannya, seluruh warga Amerika mematikan lampu selama satu menit untuk memberikan penghormatan yang terakhir kali untuk Thomas. Sejarah Ilmu Pengetahuan telah mencatat bila Thomas merupakan salah satu penemu terbesar di dunia dengan penemuan berjumlah 3000 penemuan. Thomas menerima penghargaan berupa medali emas khusus dari Kongres Amerika Serikat.

Demikian penjelasan tentang sejarah penemu proyektor film yaitu Thomas Alva Edison. Semoga ia dapat menginspirasi kita untuk terus berusaha tanpa menyerah, meskipun kita di pandang sebelah mata oleh orang lain. Karena hanya hasil dari kerja keraslah yang dapat menjawab semua ejekan dan pandangan buruk orang lain terhadap kita.

Jumat, 19 September 2014

Kebudayaan Indonesia



1. Wayang Indonesia
Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai daftar perwakilan Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2008. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang masih banyak penggemarnya hingga saat ini. Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam setiap pegelaran, sang dalang dibantu para swarawati atau sindhen dan para penabuh gamelan atau niyaga, sehingga pertunjukan wayang melibatkan banyak orang. Di Indonesia, Wayang telah menyebar hampir keseluruh bagian wilayah Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam yang  diantaranya adalah : Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.

2. Keris Indonesia
Keris adalah benda budaya yang eksotik dan  original. Ini merupakan ‘karya seni’ sekaligus ‘benda budaya’ asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Pada tahun 2005, Keris Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia .
Keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah) pada helai bilah. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini, penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat. Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan pembuatnya yang disimbolkan dalam berbagai bagian keris. Selain itu, keris juga marak menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

3. Batik Indonesia
Pada dasarnya, batik merupakan seni lukis yang menggunakan canting sebagai alat untuk melukisnya. Canting sendiri merupakan sebuah alat berbentuk mangkok kecil yang terbuat dari tembaga dan memiliki carat atau monong, dengan tangkai dari bambu atau kayu yang dapat diisi malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Canting ini dapat membuat kumpulan garis, titik atau cecek yang pada akhirnya membentuk pola-pola. Pola-pola inilah yang kemudian menjadi ragam hias dalam kesenian Batik.
Membatik telah diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Dengan pola tradisional ini, sejak dahulu masyarakat menuangkan imajinasi melalui gambar pada batik. Masyarakat juga telah mengenal seni pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan alami sebelum mengenal pewarnaan dengan bahan kimia. Batik yang tersebar hampir diseluruh Indonesia memiliki bentuk ragam hias yang berbeda-beda diantara satu dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia.

4. Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Alat musik ini berasal dari Tanah Sunda. Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya. Secara etimologis, Angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi Angklung merujuk nada yang pecah atau nada yang tidak lengkap. Setiap angklung akan menghasilkan nada yang berbeda, sehingga setiap penampilan membutuhkan lebih dari satu angklung. Sedikitnya delapan nada dihasilkan oleh angklung. Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2010.

5. Tari Saman Gayo dari Nanggroe Aceh Darussalam
Saman adalah salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu). Saman merupakan permainan tradisi yang biasa dilakukan oleh laki laki yang umumnya usia muda untuk mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri berlatih Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan lingkungan sekitar, dan sebagainya. Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang membutuhkan pelindungan mendesak dari Indonesia pada tahun 2011.

6. Noken dari Papua
Noken Papua adalah hasil daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia berbudaya dan beradat. Walaupun Noken berbentuk seperti halnya tas yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam benda dan peralatan, namun masyarakat Papua sendiri tidak menyebut noken sebagai tas. Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan tas yang diproduksi pabrik, baik secara bahan, jenis, model maupun bentuk Noken. Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang membutuhkan pelindungan mendesak.

7. Tenun Ikat Sumba
Kain tenun ikat adalah kain tenun yang pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat. Teknik ikat dilakukan dengan bagian-bagian tertentu dari benang, dengan maksud agar bagian-bagian yang terikat itu tidak terwarnai ketika benang dimasukkan kedalam cairan pewarna. Bagian-bagian yang diikat telah diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga setelah ditenun akan membetuk motif-motif yang sesuai dengan yang diinginkan. Pemerintah Indonesia sedang dalam proses mengajukan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.

8. Rencong dari Nanggroe Aceh Darussalam
Rencong adalah simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh. Bagi siapa saja yang memegang senjata akan merasa lebih berani di dalam menghadapi musuh. Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah tidak begitu relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang. Namum demikian, senjata ini masih relevan sebagai sebuah simbolisasi dari keberanian, ketangguhan, dan kejantanan dari masyarakat Aceh. Untuk itu, pada beberapa upacara (seperti upacara pernikahan) rencong dipakai. Pemakaian benda ini lebih mengarah kepada simbolisasi dari keberanian dari seorang lelaki dalam memimpin keluarga setelah menikah.

9. Tari Tor tor dari Sumatera Utara
Tari Tor tor merupakan tarian yang berasal dari Sumatera Utara. Tor-Tor pada awalnya bukanlah suatu tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) yang berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri. Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor. Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang, namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah menjadi tarian.

10. Gordang Sembilang dari Sumatera Utara
Sesuai dengan namanya Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun kesembilan gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan dari yang besar ke ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan  dikenal pada masa sebelum Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan Sibaso yang berarti  memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek moyang untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat. Misalnya penyakit yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan  penyakit yang menyerang suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan (mangido udan) agar hujan turun sehingga dapat mengatasi kekeringan yang menganggu aktivitas pertanian. Juga bertujuan untuk  menghentikan hujan yang telah berlangsung secara terus menerus yang sudah menimbulkan kerusakan .



11. Rumah Adat Karo dari Sumatera Utara
Rumah adat Karo terkenal dengan nama rumah si waluh jabu  artinya “rumah yang didiami delapan keluarga”. Di dalam rumah tersebut diatur menurut ketentuan adat. Adapun delapan keluarga ini memiliki posisi yang berbeda-beda dalam menempati rumah adat. Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjehe (hilir) dan kenjulu  (hulu) sesuai aliran sungai pada suatu kampung. 5. Randang dari Sumatera Barat    Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan randang adalah salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Randang tersebut memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian randang yang diambil dari kata marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut randang itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.

12. Sistem Matrilineal dari Sumatera Barat
Sistem Matrilineal merupakan sebuah sistem yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Di Minangkabau terkenal dengan garis keturunan matrilineal. Biasanya wanita-wanitanya yang memiliki rumah dan sawah. Rumah tangga-rumah tangga dikelompokkan menjadi clan yang didasarkan pada garis keturunan wanita. Setiap anak wanita mendapat warisan dari ibunya dengan memperoleh bagian yang sama besarnya dari sawah milik ibunya. 7. Rumah Gadang dari Sumatera Barat.

13. Rumah Gadang dari Sumatera Barat
Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu. Secara bahasa, Rumah Gadang berarti Rumah Besar. Rumah ini memang ada yang besar, dengan jumah kamar sampai sembilan, sebelas bahkan lebih, sesuai kemampuan ekonomi kaum yang membangun dan jumlah perempuan yang menghuninya. Makna “gadang” atau “besar” Rumah Gadang lebih mengacu ke fungsinya.

14. Aksara Ka Ga Nga dari Bengkulu
Dalam perspektif sejarah, secara umum kita mengenal aksara daerah di Indonesia pada dasarnya berasal dari India, termasuk diantaranya aksara Ka Ga Nga. Penyebaran aksara Ka Ga Nga banyak terdapat di daerah Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung.

15. Dulmuluk dari Sumatera Selatan
Dulmuluk berawal dari kitab Kejayaan Kerajaan Melayu yang selesai ditulis pada 2 juli 1845, yang berjudul Syair Abdul Muluk. Teater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang lahir di Kota palembang. Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk disekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu pada tahun 1854. Agar lebih menarik pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang ditambah iringan musik gambus dan terbangan.

16. Songket Palembang dari Sumatera Selatan
Songket Palembang sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang. Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam dan diyakini sejak zaman Sriwijaya. Pada waktu itu kerajinan songket merupakan suatu usaha sambilan bagi penduduk asli Palembang. Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823).  Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai songket pada waktu itu adalah raja atau sultan dan kerabat keraton. Songket yang dipakai oleh para sultan di Palembang merupakan pelengkap pakaian kebesaran.

17. Mak Yong dari Kepulauan Riau
Di daerah Kepulauan Riau, tradisi lisan Mak Yong telah dipertunjukkan sejak beberapa abad yang lalu dan menyebar sampai ke Bangka, Johor, Malaka, dan Pulau Pinang. Di Kepulauan Riau, Tradisi lisan ini berkembang pesat pada masa pemerintahan Kesultanan Riau (1722-1911). Seni pertunjukan teater Makyong dimainkan dengan tarian, nyanyian, dan lawakan yang terjalin dalam suatu alur cerita. Pemainnya 20 orang, yang pria bertopeng sedangkan yang wanita mengenakan kostum gemerlap.

18. Krinok dari Jambi
Krinok merupakan salah satu seni vokal tradisi yang dimiliki masyarakat Melayu di Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo. Seniman krinok mengatakan krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa pra sejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. Ja’far Rassuh menduga cikal bakal krinok sebagai sebuah seni suara telah ada jauh sebelum masuknya agama Budha ke wilayah Jambi. Pada masa itu seni vokal digunakan untuk pembacaan mantra atau do’a tertentu, inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian krinok.

19. Dambus dari Bangka Belitung
Dambus merupakan musik yang telah berusia ratusan tahun dan masih bertahan di Bangka Belitung. Gambus berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara.  Dengan menggunakan syair-syair kasidah, gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Oleh karenanya, gambus digunakan para imigran menjadi sarana dakwah di nusantara. Langkah ini kemudian diteruskan oleh para ulama untuk berdakwah Islam.

20. Tenun Siak dari Riau
Perkembangan Tenun Siak bermula ketika Siak diperintah Sultan Said Syarif Ali, sekitar tahun 1800, ketika usaha kerajinan tenun ini mulai dikenal luas. Pada masa lalu ada seorang bernama Encik Siti binti E. Wan Karim yang berasal dari Trengganu, yang tenunannya menggunakan benang sutera, katun dan emas. Tenunan itu sangat disenangi oleh kalangan istana. Ia mengembangkan motif tradisional dan ciptaan baru sehingga dikenal dan disukai kembali setelah agak terlupakan. Hingga kini, penenun Siak dianggap lebih teguh mengembangkan corak asli Melayu, yaitu pucuk rebung, awan larat, bunga cengkih, tampuk manggis, semut beriring, siku keluang, dan itik pulang petang.

21. Gazal dari Kepulauan Riau
Ghazal adalah semacam musik orkestra tradisi Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau. Asal Ghazalini dapat ditelusuri dari irama padang pasir atau Timur Tengah yang menyebar ke Johor Malaysia dan kemudian terus menyebar dan berkembang di Kepulauan Riau yaitu; Penyengat, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, dan Batam.
Kesenian musik ghazal ini mulai dikenal dan dikembangkan sejak zaman Kerajaan Melayu dan pada wakt itu tampil musik ghazal ini untuk mengisi acara-acara Permbesar Kerajaan. Pendiri pertama musik ghazal ini adalah Bapak Haji Kenal Muse atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Lomak yang berasal dari Johor Baru.

22. Gurindam Dua Belas dari Kepulauan Riau
Kumpulan Gurindam Duabelas dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau.  Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

23. Tabot dari Bengkulu dan Tabuik dari Sumatera Barat
Berasal dari kata ‘tabut’, dari bahasa Arab yang berarti mengarak. Upacara Tabot / Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di Bengkulu dan di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein.

24. Muang Jong atau Buang Jong dari Bangka Belitung
Buang Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di lautan. Muang Jong sendiri memiliki arti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal. Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September. Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Ritual Muang Jong dengan bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, terutama di laut.

Artikel Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan aset nasional dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1992. Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan ketinggian tempat 0 – 608 meter dpl dan letak geografis berada pada 6°30’ – 6°52’ LS, 102°02’ – 105°37’ BT dengan area seluas 122.956 ha, yang terdiri dari daratan 78.619 ha dan laut 44.337 Ha (merujuk pada penunjukkan Menteri Kehutanan, SK No. 284/Kpts-II/92). Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini, yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus),surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

Aktivitas pembangunan di kawasan hutan konservasi yang mengabaikan prosedur dan dampak terhadap lingkungan semakin marak terjadi. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Karena memiliki fungsi dan nilai ekologis serta kekayaan flora dan fauna yang tinggi, Taman Nasional Ujung Kulon perlu dilindungi keberadaannya dengan seperangkat peraturan.

Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Laut

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga tipe ekosistem yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem pesisir dan ekosistem daratan/ terestrial. Ekosistem perairan laut terdiri dari habitat terumbu karang dan padang lamun, dengan luas yang ekstensif pada sebagian besar perairan semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan pantai dan hutan mangrove yang terdapat pada sepanjang pesisir pantai dan daerah mangrove di bagian Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon dan pulau-pulau di sekitarnya.

Terumbu karang, padang lamun, dan garis pantai Taman Nasional ini didominasi oleh sejumlah kecil spesies yang membentuk 90% masa karang. Di kedalaman 5 – 15 m di bawah permukaan perairan, karang-karang meja (Acropora spp. dan Pocillopora spp.) mendominasi perairan dangkal, di samping spesies Millepora platyphylla dan Poritas lutla.  Pada kedalaman 15 m di bawah permukaan perairan banyak dijumpai kipas laut (Favia spp., Favitis spp., Dipluria spp., Turbinaria spp. dan Echinopora spp.) (Taman Nasional Ujung Kulon, 1995). Pada perairan dalam dari kawasan Taman Nasional memiliki berbagai ragam penghuni seperti Barracuda, ikan layar, tuna, ikan hiu, dugong, lumba-lumba dan lain-lain.

Jenis-jenis ikan lain yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok, dan sumpit (archer fish). Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.

Kondisi Gugus Pulau-pulau kecil juga merupakan potensi kelautan yang dimiliki oleh Kabupaten Pandeglang, terdiri dari Pulau Popole dengan luas 12 ha. Pulau Liwoengan 50 ha. Pulau Peucang 500 ha. Pulau Panaitan 1.080 ha.  Pulau Wetar 15 ha, Pulau Sahim 10 ha dan Pulau Handeuleum 60 ha.

Potensi kelautan yang dimiliki oleh Kabupaten Pandeglang selain dari potensi pariwisata juga terdapat potensi ikan laut. Dari data ada 6 TPI (Tempat Pelelangan Ikan), yaitu TPI Labuan, Carita, Sukanegara. Panimbang. Citeureup, Sumur, Tarnan Jaya dan TPI Sidamukti. Jumlah produksi ikan laut adalah 4.565.274 kg, dengan nilai Rp. 6.619.784.000,- Ikan laut ini oleh masyarakat dilakukan pengolahan seperti diasin dengan jumlab produksi I 0272.3 ton, Pindang 2.073,2 ton, dan peda 1.056,5 ton.

Kondisi dan Potensi Ekonomi

Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon banyak sekali memiliki potensi didalamnya, antara lain pertanian, peternakan, pertambangan, pariwisata dan lain-lain.

Potensi pertanian yang ada di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon adalah padi sawah, padi ladang, jagungm kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar.

Produksi tanaman pangan tahun 2010 didominasi oleh  padi sawah dengan total produksi 74.564 ton, lalu diikuti oleh padi ladang 45.609 ton. Sedangkan yang paling kecil produksinya adalah ubi jalar yaitu 572,9 ton.

Potensi peternakan yang ada di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon adalah sapi, kerbau, kambing, domba, itik, ayam buras dan ayam ras.

Untuk populasi ternak di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon didominasi oleh kambing yaitu 49.519 ekor, diikuti oleh domba 37.535 ekor, kerbau 9.098 ekor dan sapi 32 ekor. Populasi kambing banyak terdapat di Kecamatan Sumur yaitu 14.995 ekor. Untuk populasi domba banyak terdapat di Kecamatan Cimanggu yaitu 11.943 ekor. Untuk kerbau populasi terbanyak ada di Kecamatan Cigeulis yaitu 2.476 ekor. Populasi sapi hanya terdapat di Kecamatan Cigeulis yaitu 32 ekor.

Untuk populasi unggas di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon banyak terdapat ayam buras dengan jumlah populasi sebanyak 364.382 ekor, diikuti dengan populasi ayam ras sebanyak 108.015 ekor dan itik 21.181 ekor. Populasi ayam buras banyak terdapat di Kecamatan Sumur yaitu 90.961 ekor. Untuk ayam ras banyak terdapat di Kecamatan Cibaliung yaitu 53.562 ekor dan itik di Kecamatan Sumur yaitu 6.273 ekor.

Potensi pertambangan di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon ada dua jenis yaitu potensi pertambangan mineral dan potensi pertambangan minyak dan gas bumi.

Untuk potensi pertambangan minyak dan gas bumi,  Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon memiliki luas lahan keseluruhan kurang lebih 370.647 (tiga ratus tujuh puluh ribu enam ratus empat puluh tujuh) hektar meliputi: Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Perkembangan sektor pariwisata diantaranya dapat dilihat melalui jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata dan jumlah tamu yang menginap pada tempat penyedia jasa akomodasi yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Tempat wisata yang ada di Kawasan Strategis Nasional Taman Nasional Ujung Kulon antara lain Pulau Pecang, Pulau Handaleum, Pulau Panaitan.

Struktur Sosial Masyarakat

Masyarakat disekitar Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, merupakan masyarakat suku Sunda yang berbahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari seperti layaknya suku Sunda yang merupakan mayoritas masyarakat Jawa Barat atau Banten.

Potensi Budaya dan Adat Istiadat

Terdapat potensi budaya dan adat istiadat terutama di bidang tari-tarian tradisional termasuk seni gerak seperti bela diri atau pencak silat dan lagu-lagu daerah yang cukup potensial di angkat untuk mendukung kegiatan pariwisata sebagai atraksi wisata terutama tari kuda lumping, tari jaipong, kendang penca serta lagu-lagu daerah berbahasa sunda. Potensi ini sangat mungkin dikembangkan dalam rangka mendukung kegiatan pariwisata yang selama ini belum digalakan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat setempat. Di dalam Taman Nasional Ujung Kulon, terdapat juga tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan yang terkait dengan kegiatan budaya dengan tujuan ziarah, yang terpenting adalah gua sangiang sirah yang sangat terkenal, yang terletak di ujung barat semenanjung Ujung Kulon.

Jumat, 12 September 2014

Sejarah Indonesia

C.      Corak kehidupan dan hasil-hasil budaya manusia pada masa praaksara Indonesia
Masa prasejarah atau praaksara merupakan masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Pada masa ini, kehidupan manusia masih sangat primitif. Namun, manusia pada masa ini tetaplah makhluk hidup. Mereka hidup, bergerak, dinamis, berpikir, bahkan memiliki berbagai kebutuhan seperti halnya kita. Perbedaannya, mereka masih sangat primitif sehingga dengan segala keterbatasannya mereka melakukan segala aktivitas dengan sangat sederhana.
Zaman praaksara sering juga disebut sebagai zaman prasejarah atau zaman nirleka. Nir artinya tidak dan leka artinya tulisan. Jadi kesimpulannya, pada zaman ini manusia masih belum mengenal tulisan. Batas antara zaman prasejarah dan zaman sejarah adalah dengan ditemukannya tulisan dalam kebudayaan manusia.
Dimulainya zaman sejarah pada setiap bangsa itu berbeda-beda, hal itu tergantung dari tingkat peradaban masing-masing bangsa. Bangsa yang pertama kali menggunakan tulisan dalam kebudayaan mereka adalah bangsa sumeria. Sekitar 3000 tahun sebelum masehi, mereka terbukti telah membuat ukiran diatas tanah liat , yang dipercaya berisikan simbol-simbol yang merepresentasikan angka-angka.  
Berdasarkan penemuan-penemuan hasil kebudayaannya yang memiliki karakteristik yang berbeda antara satu masa dengan yang lainnya, maka corak kehidupan masyarakat praaksara (prasejarah) menurut para ahli sejarah dapat dibagi menjadi tiga masa, yaitu :
  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan, pada masa ini ditemukan peralatan-peralatan yang berhubungan dengan kegiatan berburu dan terbuat dari batu.
  2. Masa bercocok tanam, pada masa ini ditemukan peralatan-peralatan yang digunakan sebagai alat bercocok tanam (pertanian) yang sederhana (masih terbuat dari batu).
  3. Masa perundagian, pada masa ini ditemukan peralatan-peralatan yang telah menggunakan bahan dasar logam.

Hasil-Hasil Budaya Manusia Pada Masa Praaksara Indonesia
  1. Hasil Kebudayaan Paleolithikum
Kebudayan paleolithikum merupakan kebudayaan batu, dimana manusia masih   mempergunakan peralatan yang terbuat dari batu, serta teknik pembuatanya masih kasar. Secara garis besar, kebudayaan paleolithikum dibedakan:
a. Kebudayaan Pacitan
, ditemukan oleh Von Koenigswald, alat yang ditemukan berupa kapak genggam, serta alat serpih yang masih kasar, yang diperkirakan hasil kebudayaan manusia jenis Meganthropus.
 b. Kebudayaan Ngandong
merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di daerah Ngandong, Ngawi, Jawa Timur, alat yang       ditemukan berupa peralatan yang terbuat dari tulang dan tanduk rusa, yang diperkirakan sebagai alat penusuk, belati, atau mata tombak.
  1. Kebudayaan Mesolithikum,
atau kebudayaan jaman batu madya. Hasil peninggalan kebudayaan adalah ditemukannya kebudayaan Kjokkenmoddinger dan kebudayaan abris sous roche. Kjokkenmoddinger merupakan sampah dapur yang berupa tumpukan kulit kerang, yang di dalamnya ditemukan kapak genggam/pebble dan kapak pendek. Abris sous roche, merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua, ditemukan peralatan dari batu yang sudah diasah, serta peralatan dati tulang dan tanduk. Banyak ditemukan di daerah Bojonegoro, Sulawesi Selatan, serta Besuki.
  1. Kebudayaan Neolithikum
, merupakan hasil kebudayaan jaman batu baru, dengan  pembuatan yang lebih sempurna, serta lebih halus dan disesuaian dengan fungsinya. Alat pada masa ini digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Alat yang terkenal dari masa ini adalah kapak persegi dan belinug persegi. Kapak persegi mirip dengan cangkul, digunakan untuk kegiatan persawahan dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kapak lonjong adalah alat dari batu yang diasah dan berbentuk lonjong seperti bulat telur. Daerah penemuannya di Indonesia timur, seperti Minahasa dan Papua.

4. Kebudayaan Logam
disebut juga hasil kebudayaan dari masa perundagian. Disebut sebagai masa perundagian karena manusia sudah mulai mengenal dan menguasai teknologi tahap awal, dengan mulai mengembangkan ketrampilan pertukangan untuk membuat peralatan yang sesuai kebutuhan hidup.Pada masa itu sudah dikenal peralatan yang terbuat dari perunggu dan besi. Berikut ini merupakan peninggalan dari masa perundagian:
  • peralatan dari besi,yang berupa beliung, cangkul, mata pisau, mata tombak dan sabit
  • Gerabah, yakni peralatan yang terbuat dari tanah liat, 
  • Pakaian, merupakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu,
  • Perhiasan, berupa gelang dan kalung, baik yang terbuat dari batu dan kerang, maupun yang terbuat dari perunggu,  
  • Nekara, merupakan tambur yang berbentuk seperti dandang terbalik, digunakan dalam upacara pemujaan, sehingga alat ini di anggap suci. Banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Pulau Selayar, Pulau Roti.
  • Kapak perunggu atau juga disebut kapak corong atau kapak sepatu.

5. Kebudayaan Megalithikum,
ditandai dengan munculnya bangunan-bangunan yang dianggap suci dengan menggunakan batu-batu yang berukuran besar. Kebudayaan megalitik banyak berhubungan dengan kegiatan keagamaan terutama dalam kegiatan pemujaan roh nenek moyang. Hasil kebudayaan megalitikum antara lain:
a.      Menhir, merupakan tiang atau tugu batu yang digunakan untuk pemujaan dan peringatan akan roh nenek moyang.
b.      Dolmen, merupakan bangunan seperti meja yang terbuat dari batu yang digunakan untuk meletakan sesaji dan pemujaan arwah nenek moyang.

c.       Sarkofagus dan Kubur batu
merupakan keranda yang terbuat dari batu, dan kubur batu yang terbuat dari lempengan batu.
d.      Punden berundak, merupakan bangunan untuk pemujaan dan tersusun secara bertingkat.

1)        Masa Bercocok Tanam, Budaya Neo Iithik
a.      Asal-usul manusia
Ketika kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu bersusah payah menghasilkan dan mengolah makanan, mereka cukup mengambilnya dari alam. Akan tetapi, ketika alam tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup, manusia praaksara (prasejarah) tidak lantas berdiam diri. mereka mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menghasilkan makanan (food producing). Dari sinilah muncul bahwa manusia perlu mengolah alam. Dengan demikian corak kehidupan manusia pun berubah dari berburu dan mengumpulkan (meramu) makanan menjadi bercocok tanam. 

Pada awal bercocok tanam, mereka melaksanakan peladangan berpindah atau pertanian lahan kering (shifting cultivation). Pelaksanaan system ini dilakukan dengan cara membuka hutan untuk ditanami dan mereka akan berpindah lokasi pertanian ke lahan yang lain apabila dirasa lahan yang mereka tanami sudah tidak produktif lagi. System peladangan dapat dilaksanakan oleh mereka ketika jumlah penduduknya masih sedikit, dan hutan sebagai lahan pertanian masih luas. Karena jumlah penduduk bertambah, kebutuhan bahan makanan semakin banyak dan akibatnya system perladangan lambat laun menjadi tidak efektif lagi, ditambah lahan pertanian yang diubah menjadi lahan pemukiman.

Masyarakat awal mulai memikirkan cara mengatasi hal ini sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluarnya, yaitu dengan jalan pertanian yang menetap dan mempertahankan kesuburan tanah dengan pemupukan. Pertanian menetap dilakukan di lahan kering maupun lahan basah. Jenis tanaman di lahan kering meliputi sayuran dan jenis yang biasa pada lahan perladangan, yaitu padi, keladi, ubi jalar, kacang-kacangan, dan berbagai jenis tanaman musiman serta tahunan seperti buah-buahan dan biji-bijian.

b.      Corak kehidupan sosial-ekonomi
Setelah kehidupan masa berburu dan mengumpulkan makan terlampau maka manusia mengingkatkan ke suatu masa, yaitu masa bercocok tanam. Masa ini sangat penting bagi sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber – sumber ala bertambah cepat. Hewan dan tumbuhan mulai dipelihara dan diizinkan. Untuk membuka tanah pertanian mereka gunakan dengan cara menebang dan membakarnya sehingga terciptalah sawah ladang yang bisa ditanam. Untuk mencukupi kebutuhan protein hewan mereka tetap berburu binatang di hutan serta menangkap ikan di sungai atau laut.
Pada masa ini tanda – tanda kehidupan menetap sudah mulai nampak. Mereka hidupa berkelompok di tempat tinggi atau rumah panggung. Mereka sudah mulai memikirkan kebutuhan bersama, bekerja sama, gotong – royong, dan sebagainya. Populasi mereka makin lama makin tambah besar sehingga kebutuhan mereka makin besar pula. Bertempat tinggal di perkampungan menimbulkan berbagai macam akibat yang sebelumnya tidak ada. Mereka bertempat tinggal tetap tidak berpindah – pindah sehingga sampah makin lama makin menumpul dan menimbulkan polusi lingkungan.
Kehidupan budaya pada masa bercocok tanam sudah menunjukkan adanya kemajuan yang berarti. Menemabg hutan, membersihkan semak belukar, menabur benih, memetik hasil, berburu. Membuat gerabah, dan menagkap ikan semuanya dengan cara bergotong – royong. Biarpun demikian pembagian antara laki – laki dan perempuan sudah nampak jelas. Laki – laki bisanya berburu kerena membutuhkan tenaga yang banyak, menangkap ikan di laut lepas, membangun rumah, membuka hutan. Sementara perempuan tugasnya menangkap ikan di sungai dekat rumahnya, membuat gelisah, membimbing anak – anaknya, menabur benih, memetik hasilnya. Dengan demikian terjalin kerja sama dan saling mengisi dalam kehidupan rumah tangga. Kepentingan masyarakat berada di bawah kepentingan pribadi. Semua itu berjalan karena melalui komunikasi yang murni serta dipimpin oleh seorang kepala yang dipatuhi bersama sama serta jujur.
Alat- alat yang dihasilkan pada masa bercocok taman adalah beliung persegi fungsinya sebagai cangkul kapak karena bentuknya lonjong. Benda –benda tersebut banyak ditemukan di daerah Maluku, Irian Jaya, dan Sulawesi Utara , Mata panah sebagai mata tombak untuk berburu, gerabah dan perhiasan.

c.       Hasil-hasil budaya
Hasil-hasil kebudayaan masyarakat pada tahapan kehidupan bercocok tanam antara lain.
a.       Beliung persegi
Umumnya berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi semua bagian beliung ini diasah secara halus kecuali pada bagian pangkalnya yang merupakan tempat ikatan tangkai. Beliung persegi ini ditemukan antara lain di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.
b.      Kapak lonjong
Kapak ini mempunyai bentuk yang lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian yang tajam, kapak ini memiliki ketajaman yang simetris, pada umumnya kapak ini terbuat dari batu kali berwarna kehitam-hitaman. Di Indonesia kapak ini hanya ditemukan dibagian timur yaitu Sulawesi, Sangihe-Talaud, Flores, Maluku, Leti, Tanibar, dan Irian.
c.       Gerabah
Pada awalnya, pembuatan gerabah masih sangat sederhana yaitu dikerjakan dengan tangan. Gerabah ini ditemukan antara lain di Anyer, Kendenglembu (Banyuwangi), Klapadua (Bogor), Serpong (Tangerang), Plawangan, Gilimanuk, dan disekitar bekas danau Bandung.
d.      Mata panah
Alat ini digunakan untuk kehidupan berburu. Tempat-tempat penting penemuan mata panah ini ada di Jawa Timur, yaitu di Sampung (Gua Lawa), Tuban (Gua Gede dan Kandang), Besuki (Gua Petpuruh), Bojonegoro (Gua Kramat dan Lawang), dan Punung (yang tersebar dipermukaan bukit-bukit kecil di Song Agung, Sembungan, Gunung Galuh). Di Sulawesi Selatan, mata panah ditemukan tersebar di beberapa gua di pegunungan kapur Maros.
e.       Alat pemukul kulit kayu
Alat ini ditemukan di Kalimantan Tenggara (di Ampah) dan di Sulawesi Tengah (Kalumpang, Minanga Sipakka). Alat ini berguna untuk menyiapkan bahan pakaian dengan cara memukul-mukul kulit kayu sampai halus.
f.       Perhiasan
Pada masa ini perhiasan gelang dari batu dan kerang sudah dikenal. Bahan dasar perhiasan berasal alam yang ada disekitar seperti tanah liat, batu, dsb. Berbagai bentuk perhiasan sudah dikenal antara lain gelang, kalung, dsb. Perhiasan ini ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

d.      Sistem kepercayaan
Pada masa bercocok tanam, kepercayaan manusia purba masih bersifat animisme, dinamisme, dan totemisme. Namun, sudah lebih meningkat dibandingkan masa sebelumnya. Pada masa ini dilakukan upacara-upacara penghormatan terhadap roh nenek moyang. Upacara yang paling mencolok adalah upacara pada waktu penguburan terutama bagi meraka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat.
Orang yang mati biasanya dibekali dengan bermacam-macam barang yang dipakai sehari-hari seperti periuk, perhiasan, dan sebagainya yang dikubur bersama-sama. Maksudnya adalah agar roh orang yang meninggal tidak akan tersesat dalam perjalanan menuju ke tempat arwah nenek moyang atau asal-usul mereka. Jika tempat yang dianggap sebagai tempat arwah terlalu jauh atau sukar dicapai, maka orang yang mati cukup dikuburkan di suatu tempat dengan meletakkan badannya terarah ke sebuah tempat yang dimaksud, yaitu tempat roh.
Pada masa bercocok tanam, orang yang meninggal dunia mendapat penghormatan khusus. Ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya bendabenda berupa susunan batu besar dalam berbagai bentuk dan biasanya disebut bangunan megalithikum. Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Bentuk bangunan yang bermacam-macam itu mempunyai maksud utama yaitu pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Bangunan yang paling tua mungkin berfungsi sebagai kuburan. Bentuk-bentuk tempat penguburan dapat berupa: dolmen, peti batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba atau bejana batu, waruga, batu kandang dan temu gelang. Di tempat-tempat kuburan semacam itu kadang-kadang ditemukan bangunan batu besar lainnya sebagai pelengkap pemujaan terhadap roh nenek moyang seperti menhir, patung nenek moyang, batu saji, batu lesung atau lumpang, batu dakon, punden berundak, pelinggih batu atau jalanan batu.
Di Bondowoso ditemukan dolmen, sarkofagus, menhir, arca megalitik, dan batu kenong. Di Besuki juga ditemukan dolmen semu dan sarkofagus. Di Bojonegoro dan Tuban ditemukan peti kubur batu yang oleh penduduk setempat dinamakan kubur kalang. Di tempat lain di Jawa Tengah juga ditemukan benda-benda megalitik, seperti di Rembang ditemukan kursi-kursi batu, di Banyumas dan Purbalingga ditemukan punden berundak. Di Banten dan Bogor (Jawa Barat) juga ditemukan punden berundak sementara di kuningan ditemukan menhir. Di Pasemah, Sumatera Selatan dan di Sulawesi Tengah juga ditemukan menhir dan patung nenek moyang. Di Keliki dan Tegalang, Bali, ditemukan sarkofagus.

2)      Masa perundagian : Budaya Megalithik dan Budaya Logam
a.    Asal-usul manusia
Periode perundagian dimulai pada zaman logam, yaitu sekitar 10.000 tahun yang lalu. Pada periode ini, besi dan perunggu mulai digunakan oleh masyarakat. besi dan perunggu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan seperti peralatan rumah tangga, berburu, berkebun  dan pertanian. Akan tetapi dengan bertambahnya berbagai macam ragam peralatan, hal ini membuat tidak semua orang mampu membuatnya, karena pembuatan masing-masing jenis barang membutuhkan seorang ahli dalam bidangnya. 
Dengan menggunakna peralatan yang terbuat dari logam, kehidupan manusia berlangsung dengan lebih baik sehingga mereka dapat mengahasilkan berbagai macam barang dan bahan makanan yang lebih banyak sehingga produksi makanan menjadi surplus.

Kondisi inilah yang telah mendorong manusia pada zaman ini untuk melakukan perdagangan. Perdagangan yang terjadi tidak hanya terbatas pada lingkup daerah saja, tetapi sudah lintas pulau bahkan samudra.

Pada zaman ini, masyarakat sudah mengenal daerah perdagangan, baik untuk mencari produsen, yaitu tempat aalnya barang mentah atau barang jadi, maupun untuk mencari konsumen, yaitu tempat memasarkan barang dagangannya.

b.   Corak kehidupan sosial-ekonomi
Masyarakat pada masa perundagian diperkirakan sudah mengenal pembagian kerja. Hal ini dapat dilihat dari pengerjaan barang-barang dari logam. Pengerjaan barang-barang dari logam membutuhkan suatu keahlian, tidak semua orang dapat mengerjakan pekerjaan ini. Selain itu, ada orang-orang tertentu yang memiliki benda-benda dari logam. Dengan demikian pada masa perundagian sudah terjadi pelapisan sosial.Bahkan bukan hanya pembuat dan pemilik, tetapi adanya pedagang yang memperjualbelikan logam.
Pada masa perundagian kehidupan sosialnya sudah mengenal sistem kemasyarakatan yang sudah teratur. Masyarakat hidup diikat oleh norma-norma dan nilai. Norma-norma dan nilai-nilai ini diciptakan oleh mereka sendiri, disepakati dan dijadikan pegangan dalam menjalan kehidupannya. Sebagaimana layaknya dalam suatu sistem kemasyarakatan, pada masa ini sudah ada pemimpin dan ada masyarakat yang dipimpin. Struktur ini dikatakan ada kalau dilihat dari penemuan alat-alat untuk penguburan. Kuburan-kuburan yang ada terdapat kuburan yang diiringi dengan berbagai bekal bagi mayat.
Model kuburan ini diperkirakan hanya untuk para pemimpin. Sistem mata pencaharian pada masa perundagian sudah mengalami kemajuan. Keterikatan terhadap bahan-bahan makanan yang disediakan oleh alam mulai berkurang. Mereka mampu mengolah sumber-sumber daya yang ada di alam untuk dijadikan bahan makanan. Cara bertani berhuma sudah mulai berubah menjadi bertani dengan bersawah. Ada perbedaan dalam cara bertani berhuma dengan bersawah. Dalam bertani berhuma ada kebiasaan meninggalkan tempat olahannya, apabila tanahnya sudah tidak subur, jadi hidup mereka pun tidak menetap secara permanen. Sedangkan dalam bertani bersawah tidak lagi berpindah, mereka tinggal secara permanen. Hal ini dikarenakan pengolahan tanah pertanian sudah menggunakan pupuk yang membantu kesuburan tanah. Dengan demikian masyarakat tidak akan meninggalkan lahan garapannya. Bukti adanya kehidupan bersawah yaitu dengan ditemukannya alat-alat pertanian dari logam, seperti bajak, pisau, dan alat-alat yang lainnya.


c.    Hasil-hasil kebudayaan
Benda-benda hasil budaya pada masa perundagian antara lain.

1.    Nekara
Nekara ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sangean, Roti, Selayar dan di Kepulauan Kei. Nekara dianggap sebagai barang suci. Menurut hasil penyelidikan diperoleh keterangan bahwa nekara hanya digunakan untuk upacara-upacara
2.    Kapak corong (sepatu)
Bemda seperti ini ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar dan Irian. Jenisnya sangat banyak misal ada yang besar memakai hiasan, ada kecil bersahata, dan ada yang bulat.
3.    Cendrasa
Benda ini berupa kapak yang terbuat dari perunggu dan hanya digunakan sebagai tanda kebesaran dan alat upacara, ditemukan antaralain di Jawa Barat, Yogyakarta, dan Rembang.
4.    Bejana perunggu
Bejana jenis ini ditemukan di Sumatra dan Madura.
5.    Arca-arca perunggu
Mempunyai bentuk dan ukuran berbagai macam. Arca-arca itu menggambarkan berbagai macam kegiatan manusia pada masa itu. Arca-arca ini ditemukan antara lain di Riau (Bangkinang), Palembang, Bogor, dan Lumajang.
6.    Alat-alat dari Besi
Benda-benda dari besi yang ditemukan antara lain berfungsi sebagai alat keperluan sehari-hari dan senjata, namun seringkali merupakan bekal kubur.
7.    Gerabah
Pada masa perundagian pembuatan gerabah mengalami kemajuan yang pesat dari masa sebelumnya. Gerabah mempunyai fungsi yang penting dalam upacara-upacara dan kepentingan rumah tangga.
8.    Manik-manik
Pada masa perundagian ini manik-manik dibuat dari berbagai macam bahan seperti kaca, tanah liat yang dibakar, batu akik (kornalin) dengan dan bentuk serta warna. Manik-manik selain berfungsi sebagai benda pusaka juga digunakan sebagai alat jual beli.

d.   Bentuk kepercayaan
Kepercayaan pada masa perundagian merupakan kelanjutan kepercayaan pada masa bercocok tanam. Pada masa perundagian, terdapat kepercayaan bahwa arwah nenek moyang mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya. Karena itu, arwah nenek moyang harus selalu diperhatikan dan dipuaskan melalui upaara-upacara. Benda upacara terbuat dari perunggu.

Upacara-upacara dilakukan sesuai dengan tempat tinggalnya dan intinya sama, yaitu penghormatan atau pemujaan pada leluhur. Orang memuja ruh nenek moyang untuk meminta perlindungan. Upacara-upacara tersebut sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Banyaknya peninggalan bangunan untuk pemujaan masa perundagian menunjukkan bahwa kedudukan kepercayaan masa itu sangat penting.

Pada masa perundagian, manusia purba untuk dapat berhadapan langsung dengan ruh nenek moyang dibuatkan patung-patung nenek moyang. Pada patung-patung itulah ruh nenek moyang diam. Cara lain untuk berhadapan dengan ruh nenek moyang ialah dengan jalan memanggilnya. Orang yang dapat memanggil ruh adalah pada dukun (saman). Praktek itu disebut samanisme. Ruh nenek moyang disebut juga hyang (eyang). Hyang-hyang itu bersemayam di tempat-tempat tinggi yang bergunung-gunung.





 


TUGAS KELOMPOK
SEJARAH INDONESIA







 




















Disusun Oleh :

Kelompok 4
-          Tia Isdayanti
-          Pina Nur Maulidah
-          Pupu Marpuah
-          Indri Nur Lutfiyani
-          Mira Sudianti
-          Cecep Ginanjar








MADRASAH ALIYAH NEGERI RANCAH

2014

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Bonus Video Klip

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes